Menimbang Minangkabau: Kesenian, Spiritualitas, dan Isu-isu Kebangsaan
Karya: Zelfeni Wimra)
Karya: Zelfeni Wimra)
(Komunitas Adat dan Proyek Industri Otak yang Mangkrak)
Membaca judul buku karya Zelfeni Wimra membuat saya berpikir tentang polemik-polemik yang terjadi di Minangkabau (Sumatra Barat) dengan kurun waktu tertentu—yang barangkali saat kejadian tersebut terjadi saya masih sibuk dengan cita-cita jadi pemain bola, pun seorang remaja yang terus sibuk menulis sebuah puisi tiap malam, lalu mengirimkan kepada seorang wanita baik lewat sms ataupun surat.
Apa yang sedang ditimbang Zelfeni Wimra dalam bukunya ini?
Pada bagian I buku, saya menemukan banyak polemik-polemik kesenian dan isu-isu yang terjadi kurun waktu 2008-2012. Bagaimana kasus-kasus cimancik kesenian yang berpusat di Padang dicatat oleh Zelfeni begitu jelas. Mulai dari kecendikiawanan sampai seputar kebiasaan masyarakat yang masih menggunakan jasa organ tunggal untuk memeriahkan pesta. Saya kira ini lumayan komplit untuk sebuah keresahan ataupun fenomena. Sekitar tahun 2005-2017, organ tunggal begitu disukai oleh masyarakat, masa-masa ini saya mengalami dan sedikit tau bagaimana organ tunggal menjamur dikalangan muda-mudi. Pun tuan rumah pesta tak hayal mau menghabiskan uang untuk perhelatan organ tunggal, baik dari jamuan tamu ataupun pembayaran organ tunggal itu sendiri.
Pada bagian ini, penulis juga menyinggung keberadaan komunitas dan mutu karya sastra di Sumatra Barat. Saya membawa bahasan tersebut kepada masa saya mulai serius menulis 2012. Bila dibandingkan dengan bahasan yang dipaparkan penulis pada bukunya yang bertahunkan 2013, barangkali saya baru mulai mencari teman diskusi kala itu dan setidaknya saya menikmati sebentar bagaimana geliat acara-acara diskusi seputar kepenulisan/sastra di Padang kala itu, meski hanya datang sebagai penyimak yang duduk di pojokan. Beberapa komunitas kala itu memang sangat menonjol dengan adanya acara-acara tiap minggu/bulan diadakan rutin, begitu juga dengan penulis-penulis Sumbar yang karya-karyanya bermunculan, saya juga mengenalnya beberapa dan belajar banyak dari karya-karya yang mereka hasilkan. Tapi apakah mereka menghasilkan generasi setelah mereka? Entahlah.
Saya kira bahasan pada bagian I ini masih sangat sangat menjadi keresahan sampai sekarang, bukan malah semakin membaik, melainkan semakin merosot. Untuk mutu karya satra dan komunitas, sependek pengetahuan saya, selepas generasi Heru Joni Putra, Fariq al-Furiqi, Ramoun Apta, dan Karta Kusuma, tidak ada lagi muncul penulis dari Sumbar yang begitu mencolok di Nasional. Mungkin ada beberapa, tapi tidak begitu konsisten dan ada juga sebagian yang tidak berkarya secara publik lagi. Namun bukannya geliat komunitas dan karya sastra itu tidak berjalan atau berkembang, tapi terkesan sembunyi-sembunyi. Barangkali jaman semakin indie, dan mereka (pelaku) sastra memilih jalan sendiri, ketimbang membuat sebuah kelompok/komunitas tempat ruang diskusi tercipta. Pun sembrautnya komunikasi via onlen menyebabkan terjadinya sebuah kenyamanan yang serba instan. Toh, buat apa kita berjumpa hanya untuk bakuhantam, kalau via onlen kita bisa saling bacot dan lebih bebas berekspresi; emot, gambar gaje (ga jelas), dan lainnya.
Banyak hal-hal menarik yang saya temui dalam buku ini, tapi sejauh (bagian I) saya belum mendapatkan apa yang sedang ditimbang oleh penulis, selain hanya keresahan dan konflik seputar Minangkabau. Namun, dari bagian I ini, hal menarik tersebut ikut membayangi saya, misalnya, Dilarang Berladang di Punggung Seniman dan Pulang ke Rantau, Balik ke Kampung. Bahasan dari dua judul di atas mungkin tidak semata-mata dialami Dewan Kesenian Sumatra Barat (2007-2010) saja, melainkan juga dialami daerah-daerah yang dinaungi mereka. Mungkin karena bahasannya Minangkabau, penulis tidak menjelaskannya satu-satu, bagaimana ketidakhadiran Dewan Kesenian Sumatra Barat untuk daerah-derah dalam naungannya yang berpotensi dalam kesenian, terutama kesenian tradisional. Dalam tulisan tersebut, penulis juga memberikan sebuah paparan soal program yang dibuat, pun akhirnya berakhir dengan ketidakjelasan, ditambah lagi berubahnya pelaku politik alias pemerintah. Ini hanya soal Padang sebagai pusat kesenian Minangkabau.
Ini yang paling menarik; Di sinilah letak pentingnya pulang kampung. Puncak pembuktian diri perantau terjadi ketika pulang kampung. Secara tidak langsung, akan terjadi ajang penguatan eksistensi antarperantau yang pulang. Akan ada tabiat berlomba-lomba menampakkan keberhasilan di perantauan. (hal: 42). Lalu, apakah benar menampakkan sayang pada kampung: sayang jo kampuang ditinggakan? (hal: 43). Tapi, apakah sudah mereka lakukan kewajiban mereka sebagai perantau yang masih merasa orang Minang? Atau hanya sekedar merasakan hujan emas di nagari urang, sedangkan di nagari sendiri masih merasa ada hujan batu.
Dalam konteks ini, barangkali perantau juga memiliki tanggungjawab untuk mambangkik batang tarandam. Batang adalah seuatu pohon kayu yang bernilai tinggi bagi kehidupan umat manusia dipermukaan bumi ini, yang lengkap dengan dahan, ranting, daun, bunga dan buah, kalau pohon itu terendam selama berabad-abad tentu ada daun, bunga dan buah menjadi busuk lapuk dan sirna, kemudian menyatu dengan bumi dimana dia berada. Yang busuk dan lapuk itu tentu tidak selamanya tidak berguna, berkat kekuasaan Illahi Rabbi dan dengan kearifan manusia dia akan bermanfaat sebagai pupuk atau fungsi lain sesuai dengan zamannya. (dalam buku: Mambangkik Batang Tarandam, H. Julius DT. Malako Nan Putiah: 17 Juli 2004).
Seperti halnya tradisi kritik sastra di Sumatra Barat, kita barangkali tidak menemukan tradisi menulis kritik sastra sejak kurangnya geliat komunitas sastra, kalau dulu saya pikir tradisi ini masih berjalan dengan adanya kegiatan diskusi rutin yang diadakan beberapa kampus atau luar kampus di Padang; UNAND, UNP, IAIN dan lainnya. Kalau dipikir-pikir, komunitas juga menjadi alternatif membentuk seorang kritikus sastra, bisa diawali dengan diskusi antar karya teman sekomunitas dan memberikan pandangan-pandangan kritis kepada karya orang lain. Kalau sekarang itu diterapkan, sama seperti halnya seorang anak kecil cengeng baru masuk sekolah, sekali pertemuan saja, setelah itu dia beralasan gurunya pemarah. Saya kira suhu begitu sudah tidak cocok lagi diterapkan, atau dipelankan agak sedikit.
Tapi terlepas dari review panjang menurut pribadi ini, saya tidak tau apa yang sebenarnya sedang terjadi pada zaman itu (dalam buku), tetapi kalau dibawa ke zaman sekarang, saya rasa masih sangat hangat dan terlihat jelas sebuah kemerosotan, gairah yang saya temui dalam buku Zelfeni Wimran ini tidak lagi tampak, sekarang terkesan diam-diam, angek-angek cirik ayam.
Selamat atas buku Menimbang Minangkabau, buku yang patut dibaca dan ditimbang oleh generasi kedepan. Bukan soal masalah-masalah, tapi bagaimana mencari alternatif baru, kita sudah cukup lelah menyaksikan bakuhantam yang tak berkesudahan tanpa ada jalan keluar. Saya percaya, hal-hal tersebut sudah dilakukan kawan-kawan di Sumatra Barat, terlebih yang berdomisili di Padang. Sudah terbukti dengan adanya gairah-gairah baru dengan konsep baru pula, toko buku, penerbitan dan diskusi rutin. Semoga terus menghasilkan para pemikir yang intelek, pelaku seni yang paham seni, dan penulis yang mumpuni. Terserah bagaimana mereka berproses dan menciptakan karya, soal mutu, kita serahkan saja kepada diri masing-masing. Sebab tidak ada satu manusia yang bisa menentukan buah pikiran seseorang lainnya. Setiap kita punya konsep hidup dan berkarya masing-masing, jika saya suka lompong sagu, tidak mungkin saya memaksa seseorang yang menyukai onde-onde untuk ikut menyukai itu pula.
Ini saya posting diblog pribadi, pemikiranlokal.blogspot.com karena saya tau ini hanya pendapat pribadi saja untuk buku Zelfeni Wimra, boleh dipahami sebagai pandangan publik atau semata review kemenarikan isi buku saja. Bagian II akan saya tulis terpisah, tentu tetap dengan pendapat pribadi saya. Sekali lagi, selamat kepada penulis atas terbitnya buku keren ini.

Post a Comment
Post a Comment