Aadai dalam bahasa Indonesia adalah Pakaian, bergenre thriller yang disutradarai oleh Rathna Kumar dan diproduksi oleh Viji di bawah bendera produksi V Studios.
Diarahkan oleh Rathna Kumar
Diproduksi oleh Viji Subramaniyan
Ditulis oleh Rathna Kumar
Perusahaan produksi SK Studios
Didistribusikan oleh Film Srii Umayal
Tanggal rilis 19 Juli 2019
Durasi 141 menit
Negara India
Bahasa Tamil
Desa Legenda dari Nangeli adalah tentang Ezhava wanita yang hidup pada abad ke-19 awal di Cherthala di negara pangeran bekas dari Travancore di India dan seharusnya, cut off payudaranya dalam upaya untuk memprotes "berdasarkan kasta pajak payudara " . Banyak sejarawan telah mendaftarkan insiden ini dan silabus ke-9 CBSE Pemerintah telah menunjukkan kejadian ini dalam bagian yang berjudul 'Kasta, Konflik, dan Ganti Pakaian' dari kurikulum ilmu sosialnya untuk siswa Kelas IX dan kemudian dihapus karena pesanan dari Madras. Pengadilan "konten yang tidak pantas" karena dianggap sebagai tanda penghormatan terhadap kasta 'atas'. (Google)
"Dahulu, wanita memprotes hukum membuka toket. Sekarang, disuruh menutup toket, malah protes."
Film ini dibintangi oleh:
Amala Paul sebagai Sudhandhira Kodi (Kamini)
Vivek Prasanna sebagai Gowri
Ramya Subramanian sebagai Jennifer
Sarithiran sebagai Sukumar
Rohith Nandakumar sebagai Akash
Kishore Dev sebagai Deepak
Ananya Ramaprasad sebagai Nangeli / Food Delivery Girl
Sriranjini sebagai Lakshmi
TM Karthik sebagai Senthil (Senz sir)
Aadai (pakaian) menceritakan maraknya acara-acara prank, baik ditayangkan media sosial ataupun televisi. Sebuah kekecewaan seorang wanita (Nangeli) terhadap apa yang dialaminya sewaktu datang ke kota untuk menjalankan sebuah ujian masuk sekolah. Wanita tersebut telah menempuh perjalanan jauh dari daerah pedalaman untuk mengikuti ujian tersebut, tapi malah menemukan nasib sial di jalan. Alih-alih ingin menolong seseorang yang kecelakaan, malah kejadian tersebut sudah direncanakan, alias prank. Akhirnya dia tidak bisa mengikuti ujian yang ditunggu selama bertahun-tahun.
Tapi satu hal yang merubah si gadis menjadi balas dendam kepada orang yang membuat prank terhadapnya, saat sang ibu pingsan di jalan, malah dianggap prank oleh masyarakat, dan mereka sibuk berswapoto. Ini seperti menjadi tamparan telak kepada dunia nyata, bahwa media sosial dan kebebesan tidak terkendali lagi. Orang-orang yang punya kuasa, atau perlindungan sebuah lembaga semakin bebas melakukan hal hal yang merugikan orang lain. Prank merupakan sebuah lelucon paling goblok dan merugikan bagi orang lain, apalagi prank yang membuang-buang waktu, seperti dalam film Aadai ini. Untuk mereka sangat mengesankan, mendapatkan rating tinggi, viewer dan gaji. Tapi bagi mereka yang di prank, sangat dirugikan sekali.
Saya jadi ingat percakapan komika (coki-muslim) yang sangat menentang prank-prank bodoh, "apa pernah pada jaman Nabi mereka melakukan prank? Apa pernah sahabat Nabi memprank Nabi?" tentu saja tidak pernah.
Tamil memang selalu genjar menyuarakan keadaan nyata mereka ke dalam film, saya pikir ini salah satu tamparan keras untuk pengguna media sosial di India, mungkin dunia. India barangkali termasuk dalam jajaran masyarakat paling banyak menggunakan media sosial pesbuk dan Twitter. Konten-konten prank mereka pun begitu toxic.
Lewat film ini, seperti terwakilkan keresahan banyak orang dengan maraknya konten-konten goblok seperti prank, tak jauh berbeda dengan negara berflower kita.
Pada awal film, saya kira ini film sejarah atau bandingan Joker versi India. Ternyata tidak, itu hanyalah sebuah konten prank untuk sebuah acara televisi. Namun, pada bagian akhir, benang merah film ini terpampang jelas. Bagaimana seorang wanita bernama Nangeli (dalam legenda) pernah menolak keras soal diumbarnya payudara, tapi kenyataan saat ini tidak demikian. Begitu juga yang dilakukan Nangeli (pada film) untuk menyesali konten-konten yang dahulu ditolak keras oleh para perempuan.
Film ini saya rekomendasikan buat kawan-kawan untuk menemani waktu luangnya. Sangat menarik dan sarat pesan-pesan penting.


Post a Comment
Post a Comment