Kami akhirnya melakukan perjalanan menuju hutan tersebut. El Dorado dan Mismo dengan bodoh tidak membawa perlengkapan apa-apa. Aku pikir tas yang mereka sandang berisikan perlengkapan selama perjalanan, tapi ternyata hanya berisi dua helai pakaian dan sebilah parang. Aku tidak tau apa alasan mereka membawa parang itu, jelas-jelas aku telah memikulnya di pinggang. Dua manusia itu malah beralasan tidak bakalan menyusahkanku selama diperjalanan. Namun dari gelagatnya, aku akan menemui hari-hari buruk bersama mereka. Bekal makanan selama diperjalanan hanya ada di dalam tasku. Mereka berpendapat, semuanya akan mereka cari di hutan. Apa-apa yang biasanya tidak bisa dimakan, akan ditelan.
Dalam mimpi kedua kali itu, aku masih dibayangi oleh sosok Marza Berkuda yang sepintas terbang di udara. Meninggalkan bias cahaya kudanya berceceran sampai tak terlihat menyentuh tanah. Aku berusaha memanggilnya, berteriak menyuruh ia turun dan menemuiku. Cahaya yang ditingglkan oleh sang kuda tak dapat kutangkap, meski sempat aku genggam dengan tangan kiriku. Aku pikir cahaya itu sama dengan dengan kunang-kunang. Pada pertemuan kedua itu aku menangkapnya menggunakan kantong plastik, tapi tetap nihil saat kuperiksa isi kantong.
Mimpi yang tak dapat kutebus dalam kehidupan nyata, selain kembali ke sana dan menjumpai dua orang bodoh El Dorado dan El Mismo sang petualang dari Timur Tengah itu. Mereka selalu berdebat soal nama mereka sendiri, kata El Dorado, nama ia berasal dari sebuah kota yang memiliki banyak tambang emas. Sedangkan El Mismo adalah nama dari seorang pejuang asli Amerika Latin, yang tangguh dan merupakan seorang pemimpin sejati. Mereka juga sering menanyai nama asliku, dan bagaimana sejarah namaku muncul. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan konyol itu, sebab mereka bakalan mendekatkan ketiga nama tersebut.
Dalam perjalanan yang membosankan itu, kami membicarakan banyak hal. Mulai dari petualangan alam mimpiku mencari Marza Berkuda, penasaran El Dorado mencari kota emas dan ketidaktahuan El Mismo tetang keberadaan kaum aslinya, ia mengira hutan tempat peta disembunyikan adalah salah satu jalur menuju keinginannya. El Mismo berpikir si pembawa peta adalah salah satu dari kaumnya, karena ia bersikeras bahwa kaum Mismo adalah kaum petualang dunia.
Aku memikirkan Marza Berkuda di malam-malam yang panjang. Dalam mimpi yang terbalik, dalam mimpi yang mendatangkan mimpi kembali. Tapi kuda putih yang terlihat nyata itu selalu mendatangi mimpiku, mimpi yang entah berapa kalo bakalan datang di setiap tidur. Tapi beruntung, dalam petualang ini aku ditemukan oleh orang-orang gigih, nyinyir dan sarat pengalaman. Sekarang kami sedang membelah hutan Lebanon, aku merencanakan muara ke India. Walau Mismo benci patung-patung dewa dan Dorado takut pembataian.
Bersambung....

Post a Comment
Post a Comment