-->

b. a. g. #3 Petualangan Marza Berkuda



Hutan-hutan bakau kami lewati susah payah. Setelah El Mismo hampir ditelan lumpur hidup dan El Dorado terkena sengatan lebah. Aku tidak tau mau berbuat apa, beruntung dua orang kawan itu menebus janji pertama yang mereka buat, bahwa tidak akan menyusahkanku. Aku dikejar bayang-bayang ketakutan, andaikan aku berada diposisi demikian, apakah mereka akan membantu atau membiarkan aku berjuang sendiri. Aku berusaha membenarkan pikiran negatif itu, lantaran harus melanjutkan perjalanan dengan mereka. Dari gelagat dua orang kawan itu, pasti ia tidak akan membiarkanku mati sia-sia. 

Dalam mimpi yang semakin panjang, aku menemui kembali Marza Berkuda. Kenyataan tidak sebanding dengan apa yang kutemui di alam mimpi. Aku tanya pada tetua di kampungku, tidak pernah kujumpai cerita tentang Marza Berkuda. Mereka kira itu hanya halusinasi yang kelewat hayal, yang tak mungkin terjadi dikehidupan nyata. 

Tapi aku tetap bersikeras memasuki alam itu kembali, tiap malam, tiap kuminta ia hadir dalam tidurku selalu saja ia datang. Kembali petualangan itu dimulai, El Dorado dan Mismo yang nyinyir dan hutan bakau yang sedang kami tempuh masih meninggalkan rasa penasaran. Tualang terus dilanjutkan, seperti cerita bersambung yang datang dari tukang fiksi. 

Melewati hutan bakau, tidak lagi kuhiraukan jalanan penuh lumpur, lintah dan hewan penghuni bakau sibuk berseweliran. Sepatu yang kupakai terpaksa ditenteng bahu, belum lagi tas berisikan bekal makanan. Sedangkan dua temanku dengan enteng berjalan, mencabut kakinya berulangkali. Aku mulai paham, mengapa mereka tidak membawa perkakas banyak, buktinya saat itu yang dibutuhkan hanya parang. Menebas semak dan hewan melata yang datang kapan saja. 

Hutan bakau itu tampak panjang, terpampang jelas di mata. Aku kelelehan, tapi tak ada tempat yang pantas untuk persinggahan. Hanya ada hutan bakau yang luas, seperti tanaman padi yang tersusun di atas sawah. Aku mengutuk mimpi itu, menyumpahi kuda putih penuh bias cahaya, yang meninggalkan butir putih sebelum hilang dipekat malam. 

Bersambung....


Arif P. Putra
Saya seorang pengarang; menulis Puisi, Cerpen, dan Novel. Saya juga menulis tulisan Ilmiah sebagai alternatif lain mengasah kemampuan menulis saya. Ini merupakan ruang untuk membagikan tulisan-tulisan yang saya hasilkan, baik sudah dimuat media lain ataupun spontan.

Baca Lainnya

Post a Comment

Ikuti Sang Penyair Arif P. Putra