Menghimpun Catatan Perjalanan lewat Puisi
Oleh Sam Edy Yuswanto*
Judul Buku : Suara Limbubu
Penulis : Arif Purnama Putra
Penerbit : JBS Yogyakarta
Cetakan : I, 2018
Tebal : viii + 76 halaman
ISBN : 978-602-52489-0-0
Setiap orang tentu memiliki banyak kenangan dalam hidup ini. Entah itu kenangan manis yang mengesankan, maupun kenangan pahit yang membuat hati merasakan sedih berkepanjangan. Kenangan pahit maupun manis, dapat membuat seseorang belajar menjadi lebih dewasa atau justru malah sebaliknya.
Bagi seorang penulis, kenangan-kenangan yang pernah dilaluinya bisa menjadi sumber inspirasi bagi tulisan-tulisannya. Arif Purnama Putra misalnya. Pemuda kelahiran Koto Baru Surantih, sebuah kampung kecil di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat ini berupaya merangkum kenangan atau catatan-catatan perjalanan hidupnya lewat puisi.
Menurut saya, puisi sebagaimana cerita pendek (cerpen), dapat dijadikan sebagai sarana mengekpresikan perasaan atau bahkan sebagai tempat mengadu. Saya rasa Arif Purnama Putra, penulis buku Suara Limbubu ini juga sependapat. Kita bisa menyimak puisi Arif yang berjudul Puisi-an, menyiratkan pesan bahwa menulis puisi dapat dijadikan sebagai tempat mengadu dari segala kesah.
Berikut petikannya: andai tidak ada puisi, ke manakah luka akan pulang ke rumahmu, ke rumahku atau ke rumah-rumah beratapkan nisan. Aku berhenti, puisiku hidup di tubuh puisimu. Tubuhmu aku bawa; ke rumahku, ke rumahmu dan ke rumah-rumah beratapkan nisan (hal 1).
Setiap orang saya yakin memahami bahwa janji adalah sesuatu yang harus ditepati. Tentu saja janji yang bersifat positif. Namun, realitasnya, banyak orang yang gemar mengingkari janji yang telah dibuatnya sendiri, sehingga ujung-ujungnya meninggalkan luka yang begitu mendalam di hati dan hilangnya kepercayaan kepada orang tersebut. Terkait janji yang tak tertepati, Arif menuliskannya dengan bahasa yang begitu indah dalam puisi berjudul Di Pesisir.
Berikut petikan puisinya: ketika suara hanya jadi pemanggil saja, daun-daun di pulau kita semakin rebah, gugur tak terhingga seperti sepasang kekasih, yang berhubungan sekian lama, lalu putus tanpa kabar berita. Tapi bodoh, kita tetap saja berharap kedatangan dengan janji, dengan pidato panjang kala itu (hal 7).
Puisi berjudul Cerita Petani Batu Bala juga menarik disimak. Sepertinya lewat puisi ini Arif tengah berusaha menyuarakan keprihatinannya terhadap kaum petani yang lahan sawahnya akan dijadikan sebagai sumber kekayaan lewat pabrik-pabrik atau bahkan gedung-gedung bertingkat sebagaimana begitu jamak terjadi di kota-kota besar.
Berikut petikannya: Ia menaruh ribuan rimba, menanam puluhan kali batang-batang. “Kadang mereka datang, menawarkan banyak uang,” gumam pria parubaya pemupuk sawah. Seharian mereka digaduh, menghujani banyak permintaan, berjanji kelak jadi lahan-lahan produksi tingkat dewa (hal 64).
Dalam endorsement buku ini, Aris Kurniawan Basuki, menulis: Suara Limbubu mengajak kita untuk membaca sekumpulan puisi dengan gaya bahasa dan gagasan lokalitas yang kental, romantisme khas anak muda; bagaimana sang penyair menghimpun kenangan-kenangan yang berpencar di ingatan pada keluarga, orang-orang yang punya arti di hidupnya, juga catatan-catatan perjalanan ke tempat-tempat yang pernah disinggahi.
***
*Peresensi: Sam Edy Yuswanto, penulis lepas mukim di Kebumen.
Dimuat: Kabar Madura
Saya seorang pengarang; menulis Puisi, Cerpen, dan Novel. Saya juga menulis tulisan Ilmiah sebagai alternatif lain mengasah kemampuan menulis saya. Ini merupakan ruang untuk membagikan tulisan-tulisan yang saya hasilkan, baik sudah dimuat media lain ataupun spontan.
Baca Lainnya
About Me
- Arif P. Putra
- Padang, Sumatera Barat , Indonesia
- Saya seorang pengarang; menulis Puisi, Cerpen, dan Novel. Saya juga menulis tulisan Ilmiah sebagai alternatif lain mengasah kemampuan menulis saya. Ini merupakan ruang untuk membagikan tulisan-tulisan yang saya hasilkan, baik sudah dimuat media lain ataupun spontan.
Hilirmudik
-
KL GANGSTER: UNDERWORLD (Parewa Kampung Kehilangan Parang)KL Gangster Underworld bermula selepas insiden KL Gangster, semasa kongsi-kongsi gelap di Kual…
-
Film India Terbaru "Khuda Haafiz" : Sebuah Krisis yang Berujung PetakaKhuda Haafiz dalam bahasa Indonesia berarti selamat tinggal atau bisa juga diartikan sebagai Al…
-
Rekomendasi film India terbaikSui Dhaaga: Made in India ( Jarum dan benang ) disutradarai oleh Sharat katariya dan dibintang…
-
Legenda Bujang Jibun: Menelisik Kebenaran Peninggalan Sang ParewaMenuju Bukik Tabalai (Bagian 1) Lokasi: Bukik Tabalai, Lubuak Batu, Surantih, Pesisir Selatan…
-
Soorarai Pottru: Kerja Keras Memang Tak Pernah Mengkhianati HasilSoorarai Pottru adalah pilem India Tamil, genre drama yang disutradarai oleh Sudha Kongara dan di…
-
Ingin Menulis PuisiIngin Menulis Puisi puisi, puisi, puisi, puisi puisi, puisi, puisi, puisi Ini puisi aku tul…
-
Dil Bechara: Misteri Antara Pilem dan Kehidupan Nyata Sang AktorDil Bechara adalah sebuah film drama percintaan Disutradarai oleh Mukesh Chhabra, Produser…
-
Sampena Sajak Melayu Dalam Antologi Pelayaran Emas 50 Tahun AsterawaniJudul Buku: Pelayaran Emas 50 Tahun Aste…
-
Ayam: Ternak dan GelanggangAda beberapa jenis ayam yang sering digunakan orang gelanggang untuk berlaga, selain sebagai hobi,…
-
TRAIN TO BUSAN 2 PENINSULA: ANTARA ZOMBIE DAN UANGPilem ini dinanti banyak penonton, terlebih lagi Train To Busan merupakan sebuah pilem sekuel tenta…
Gala-gala
- Cerpen 10
- Ciloteh 11
- Opini 3
- Puisi 2
- Resensi 2
- Review Buku 1
- Review Film 35

Post a Comment
Post a Comment