Catatan Singkat kepada Parewa
Aku tulis catatan ini bukan untuk menakut-nakuti anak-anak di kampung. Bagiku catatan singkat ini sangat penting sekali dibaca mereka, bila suatu hari nanti aku tidak berada di kampung. Konon, di kampung kita terdapat sebuah goa yang berisi harta karun masa penjajahan. Sebagai masyarakat bekas jajahan, tentu saja kabar tersebut membuatku kaget bukan main. Itu sebabnya aku buat catatan ini dan sengaja aku tinggal di pos ronda, agar kita kaum parewa dapat mengetahui karun tersebut. Jangan berpikir yang macam-macam dulu, catatan ini bukan peta kawasan yang suatu hari bisa kalian telusuri, bukan pula pertanda, bahwa kelak aku akan mengajak para parewa untuk memburu harta karun itu. Ini semua hanya semata-mata untuk memberitahu.
Aku sampaikan lewat tulisan ini. Namaku adalah Kirun, sebagai anak pandeka di kampung, tentu aku kenyang dengan banyak cerita gaib dan pertarungan. Menyoal jawara-jawara yang ada di Sumatera, jangan tanya lagi. Biasanya setiap malam jumat, teman-teman ayahku berkumpul di rumah. Bukan membicarakan mufakat atau musyawarah gotongroyong. Tapi mereka membahas sejarah-sejarah lama yang harus mereka telusuri, aku ingat, suatu malam mereka mau mendatangi gunung yang ada di tepi sungai kampung. Gunung itu biasa disebut bukit Apa oleh masyarakat. Masyarakat kampung memang suka begitu, entah mana gunung, mana bukit. Mereka tidak tahu menahu soal sebutan yang benar. Sebenarnya itu adalah bukit, tempat pohon pala berjejer sejak lama.
Di sana mereka temukan sebuah petilasan dari maha guru silat pada jaman penjajahan. Seperti kata awal tadi, namanya kaum bekas terjajah, tentu saja mereka ingin tahu betul apa yang dahulu dipakai para leluhur. Setelah mendatangi tempat itu, mereka membawa setumpuk keris. Dan sekantong butiran batu warna-warni. Aku pikir itu hasil mereka narik secara gaib, biasanya kan begitu mereka lakukan. Mana pula ada yang kasat mata mereka dapati. Jika pun ada, sudah pasti rebutan dengan warga, contohnya sewaktu musim batu akik. Orang-orang berebut naik gunung Rajo, tempat batu Kalimaya bermukim. Itu pun mereka hanya mendapat kalimaya yang tidak berwarna. Sebab mencari batu kalimaya tidak semudah menarik batu yang mereka lakukan malam hari.
Ini hampir pada bagian penting catatan ini, cobalah simak baik-baik. Sekali lagi aku sampaikan, ini bukan catatan untuk memprovokasi kaum parewa untuk menelusuri isi catatan ini, karena sudah sejak lama orang-orang dalam catatan ini mencoba hal tersebut, namun selalu gagal. Bukan gagal menemui tempat tersebut, tapi gagal membawa barang-barang yang mereka temui. Percayalah, jangan mudah terkecoh menyoal harta karun dan peninggalan antik.
Bila kau percaya ada harta karun di kampung kita, mari kita tanyakan pada diri sendiri. Coba kalian pikir-pikir, siapa yang paling tua di kampung kita. Tanyalah pada dia tentang bagaimana kampung kita ada, tentang bagaimana penjajah menduduki bukit Apa, menumpuk keris-keris para pandeka, dan mengantongi batu-batu akik yang dianggap magis itu. Aku pernah bertanya kepada Pak Denak, jangan merinding, beliau memang sejak lama meninggal. Tapi sebelum catatan ini selesai, aku sudah lebih dulu berdiskusi dengan beliau soal harta karun itu.
Menurut beliau, biarlah waktu yang memendamnya jauh ke dalam tanah-tanah bekas jajahan. Beliau sampaikan, bagi kaum parewa, janganlah keluyuran di dekat pos ronda saja. Apalagi kencing sembarangan di tepian sungai. Kata beliau, di sana pernah terjadi pembantai antar jawara. Pandeka kampung kita membawa semua jawara suruhan penjajah kala itu, dan mereka harus dibantai di sana.
Ya, ini sedikit aku dramatisir, agar kalian tidak melulu memikirkan yang mudah-mudah. Di sana para jawara pesuruh penjajah di bantai, dikuliti dengan bringas oleh pandeka kampung. Pandeka kampung dianggap kaum oposisi, mereka jalan sendiri-sendiri. Ketika penghakimi baru berkumpul, memutuskan akan dibawa kemana persoalan.
Bagi kaum oposisi, menentang kebijakan pemerintah adalah keharusan. Kalian ingat Pak Tamiang? Ya, ayah Marus, beliau adalah salah satu pendukung pemerintah kala itu. Sebagai pandeka kampung yang pro kepada pemerintah, sudah pasti ia adalah penghambat segala rencana kaum oposisi. Beliau adalah satu-satunya orang di kampung kita yang berani meneriaki kelompok pandeka sebagai kaum oposisi. Kata Denak, itu wajar saja, karena Tamiang sudah banyak makan hasil pemberian penjajah.
Sampai-sampai ia menjadi orang kepercayaan penjajah. Itu sebabnya Marus disebut berbibir di tepi cawan. Kalian tahu sendirilah artinya, tidak perlu aku jelaskan pada catatan singkat ini.
Mari kita lanjutkan soal catatan ini. Sengaja aku tuliskan ini tidak terlalu jelas, agar otak kalian berpikir sewajarnya. Bukan berpikir macam-macam seperti yang kalian lakukan setiap malam. Kalian harus tahu, jangan kata perbuatan kalian setiap malam tidak ada yang mengetahuinya. Kalian masih ingat kejadian malam pertama Linda dan Wawan? Aku tahu itu perbuatan kalian, tapi siapa yang dapat dituduh soal mengintip dan menjaili malam pertama orang. Kemudian kejadian ijab kabul Hasna, malang betul perawan tua itu, diumur yang berkepala lima akhirnya ia lepas masa lajang dengan seorang bujang tanggung. Tapi kalian jaili juga sewaktu ijab kabul, sampai 10 jam penghulu mengulang-ulang ijab. Jangan kalian pikir aku tidak tahu.
Simak baik-baik, ini hampir pada bagian penting yang harus kalian pahami. Aku lanjutkan cerita harta karun tadi. Harta karun itu konon terdapat di belakang sawah sebelum rumahku, ada sebuah bukit kecil yang pada landungnya terdapat sebuah goa. Tidak perlu aku jelaskan landung yang mana, biar aku yang tahu soal itu. Dan tidak perlu pula kalian cari tahu setelah selesai membaca catatan ini. Begini saja, catatan ini sengaja aku tujukan pada kalian para parewa kampung, kalian bukanlah jawara yang membela kampung kita. Sekian lama aku lihat, tidak lebih hanya sebagai sampah masyarakat saja. Kalian atasnamakan kaum oposisi di jaman modren sebagai tukang jaga-jaga.
Tapi buktinya banyak harta dari kampung kita hilang. Kalian ingat Pak Muhi? Pria baik yang pulang kampung membawa jenazahnya istrinya untuk dimakamkan di tanah kaum mereka, malah kalian palak mahal untuk menggali kuburan. Padahal sebagai warga kampung, itu sudah jadi tugas kita semua. Mana pula ada sistem bayar membayar di kampung, ketika menggali kuburan. Andaikan itu terjadi padamu nanti, percuma saja punya kampung dan kaum.
Kalian simak ini baik-baik, ini akan menjadi catatan penutup dalam tulisan ini. Aku ceritakan ini semua agar kalian tahu. Di tepian sungai, setiap malam minggu anak-anak digiring. Adik dan ponakan bergiliran dibawa pemuda-pemuda dari luar. Kalian buat pembatas antara kampung kita dan kampung sebelah, tapi nyatanya adik dan ponakanlah yang mengisinya. Anak-anaknya dibuang, hanyut melewati air yang bercampur air kencingmu dari mudik. Setiap malam minggu mereka memegang perut, menahan sakit yang bila ia pikirkan ingin mengulang lagi. Sakit apa pula namanya itu.
Ini bukan kaum perempuan saja, adik dan keponakan laki-lakimu juga berada di sana, satu semak dan kegelapan. Kalian pesan tuak penuh ragi untuk bersikap bodo amat. Pada pongah lain, kalian busungkan dada menentang peraturan tetua. Aku sampaikan ini pada kalian secara terang, dalam keadaan sadar yang sudah kelewat batas.
Pada bagian penutup ini, kalian tidak perlu mencari tahu soal harta karun yang ada di kampung kita, karena sejak lama para pandeka sudah mengamankannya. Tidak perlu kalian cari tahu ke bukit-bukit yang ada di kampung kita. Bukit Apa sudah cukup menjadi saksi kaum bekas jajahan. Aku pikir kalian harus jalan-jalan setiap malam minggu ke tepi sungai, mana tahu bertemu dengan karun-karun yang hidup. Hiasan kampung, peramai rumah ibu.
Sengaja aku sebutkan nama-nama orang yang telah mendahului kita dalam catatan ini, biar kalian sadar, bahwa orang-orang sudah sejak lama mempertahankan kampung mereka masing-masing. Bukan menguburnya diam-diam, memeras isinya saban hari. Bila catatan ini menyinggung perasaan kalian para parewa, datangilah aku ke kuburan kaumku.
Dipublikasikan Koran Haluan

Post a Comment
Post a Comment