-->

Pandangan Kaum Awam Tentang Kesustraan Indonesia



Ini Pandangan Kaum Awam Tentang Kesustraan Indonesia, Ranah Sastra Lisan Yang Tidak Lagi Dilisankan. 

Hakikat Mantra

Mantra dapat dikelompokkan ke dalam puisi lama dalam kesusastraan Indonesia dan mantra ada dalam berbagai suku bangsa di nusantara. Puisi ini diciptakan untuk mendapatkan kekuatan gaib dan sakti. Dengan demikian, dalam mantra tercermin kepercayaan penggunanya saat menggunakan mantra.

Menurut Djamaris (2002:10) masyarakat lama percaya bahwa setiap benda seperti gunung, pohon besar, gua dan lembah yang dalam mempunyai roh. Di samping itu, masyarakat percaya bahwa benda-benda tertentu mempunyai kekuatan magis atau kekuatan luar biasa yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan keinginan pembaca mantra.

Fungsi Mantra
Secara umum, mantra berfungsi sebagai usaha mencapai sesuatu tujuan melalui kegiatan yang bersifat magis dan berkaitan dengan alam supranatural untuk tujuan baik dan jahat. Mantra dalam masyarakat Jawa berfungsi sebagai: (a) penakluk kejahatan; (b) penjaga wibawa; (c) pengisi kekuatan; (d) penolak kutukan; (e) pemikat asmara; (f) penghubung dengan sesaji; (g) penghantar roh manusia ke alam arwah; (h) pembawa kutukan; (i) pembelenggu roh manusia dan jin; (j) media komunikasi dengan Tuhan; (k) penawaran racun; dan (l) penakluk binatang galak (Sukatman, 2009:62).

Baik, kita simak pengertian dan fungsi mantra ala kaum awam.

Hakikat mantra: mantra merupakan kaji atau ilmu yang bisa diturunkan kepada orang lain, dengan syarat yang sudah ditentukan oleh si pemberi mantra. Mantra seperti ini biasanya digunakan untuk hal-hal yang kurang baik, seperti, memikat perempuan, memengaruhi orang lain, atau berbuat jahat. Namun, ini harus diluruskan, bahwasanya mantra yang benar-benar turun temurun biasanya digunakan oleh pelafal dalam keadaan akal sehat, atau memang sudah keadaan mendesak, seperti mantra menjeput orang di rantau. Tetapi, mantra yang mengandung unsur gaib yang banyak beredar dikalangan masyarakat luas, kebanyakannya adalah mantra isi ulang atau mantra yang memakai jangka waktu. Misalnya, Si A mau memakai mantra Pekasih kepada si B. Maka akan ada jarak waktu yang ditentukan, satu tahun atau dua tahun. Kemudian diisi ulang lagi, ini hampir sama dengan memberi tumbal, yaitu uang. Jika tidak dilakukan, maka akan berakibat buruk.

Ini adalah sebuah jenis karya sastra, hasil  bibit kesustraan di indonesia. Satra lama, sastra kuno, sastra yang tidak mampu lagi disastrakan, diajarkan kepada kalangan generasi muda. Puisi lama hanya jadi pelengkap menu-menu kesustraan saja. Hanya menjadi macam-macam kesustraan.

Mari kita simak puisi mantra satu ini:
Mantra pengobatan: Palunak
”Kunci-kunci dalam manghadari angko
Takni namonyo
Jerajat namonyo
Dari sunatar turun dari ate langik ka bumi
Kunci tatutuik sarato lailahailallah”

Terjemahaan
Mantra pengobatan: Menundukkan Emosi Seseorang

“Kunci-kunci dalam menghadirkan angka
Nama pesuruh
Derajat namanya
Dari mukjizat turun dari atas langit ke bumi
Kunci tertutup beserta Lailahaillah”

Terlepas dari kejahilyaan masyarakat yang masih memercayai mantra, sebenarnya dari sisi pengertian dan banyaknya penelitian, semuanya kembali kepada kuasa Tuhan dan kepercayaan masing-masing. Mantra merupakan sebuah permohonan, permintaan kepada yang kuasa, bukan sebuah benda atau orang. Namun, ranah ini harus memiliki bagian, bagian ajaran agama Islam dan agama lain. Sebab, mantra sudah ada sebelum Agama Islam masuk ke Indonesia. Jadi masyarakat awam jangan menyamaratakan mantra dengan ayat suci Al-Quran atau Syair-syair dalam kitab Al-Quran. Meski dalam mantra yang dimiliki masyarakat banyak menggunakan kalimat Bismillah atau Huallah!
Namun, kesustraan harus tetap dijaga, bukan hanya menjadi pelengkap saja. Begitu juga dengan pengetahuan, bagikan pengetahuan itu kepada generasi selanjutnya, agar mereka terus bisa mempelajari banyak hal tentang kesustraan Indonesia, bukan hanya sibuk mencari modrenisasi dan gaya barat. Pentingkan isinya karyamu, jangan pikirkan pasarannya. Jika berkarya untuk materi, maka sesatlah dikemudian hari.

Demikian penjelasan singkat dari sekelompok masyarakat awam pemilik mantra yang benar-benar mantra, puisi pengantar tidur dan dendang pelelap anak. Bukan kesusatraan, bukan puisi penebar kebencian. Bukan sekedar jenis, tapi paham makna dan tulisannya. Bukan hanya permainan kata, tapi menyampaikan nasihat. Ini bahasan singkat tentang sastra lisan, sastra lisan sudah jelas bukan sastra tulis.

Katanya, "pahami apa yang kamu geluti, bukan geluti apa yang kamu pahami."

Sumber: Buyuang Her dan skripsi "mantra gasiang tangkurak sebagai pengobatan" 

(Maaf jika tidak kami lampirankan daftar kepustaannya.)
Arif P. Putra
Saya seorang pengarang; menulis Puisi, Cerpen, dan Novel. Saya juga menulis tulisan Ilmiah sebagai alternatif lain mengasah kemampuan menulis saya. Ini merupakan ruang untuk membagikan tulisan-tulisan yang saya hasilkan, baik sudah dimuat media lain ataupun spontan.

Baca Lainnya

Post a Comment

Ikuti Sang Penyair Arif P. Putra