Tukang Pembawa Wabah dan Proyek Pengalihan Air
Wabah yang dibawa keliling kampung ternyata tak sanggup menulari semua orang, selain Si Pandir gagap penghuni pagar di jalan menuju sungai. Si Pandir biasanya berjaga di sana, menakuti anak-anak yang hendak bermain di sungai siang hari. Tapi tak jarang pula hal tersebut menjadi sensasi bagi sebagian anak-anak di kampung kami. Sejak pembawa wabah proyek pengalihan air itu mulai acap jalan ke sungai, guna memengaruhi Si Pandir yang gagap. Kami sering melihat dia berdua di tepi sungai, menyebabkan sensasi berbeda itu tidak kami jumpai lagi.
Aku mengabarkan kepada ayah di rumah, karena sering ditanyai mengapa selalu cepat pulang mandi. Biasanya kami pulang sebelum magrib, sejak tukang pembawa wabah sering ke sungai menemui Si Pandir, kami tidak lagi menemui rintangan melewati pintu pagar. Tidak ada lagi adegan kejaran atau saling sebut nama gala. Kabar itu disambut ayah dengan cerita lain, yang membuat aku merasa sedih. Cerita soal proyek pengalihan air, si tukang pembawa wabah bukan kali itu saja berussaha memasukan proyek ke kampung, sebelumnya dia juga pernah membawa proyek parit. Proyek tersebut terbilang gagal, lantaran parit yang dibuat tidak sesuai gambaran ia dari awal. Parit yang menjadi saluran air hasil rumah tangga tersebut berujung macet, dan menimbulkan nyamuk serta bau yang menyengat. Pernah juga membuat aliran irigasi, malah memakan tanah warga dan berakhir dengan cekcok antar pemilik tanah, soal pembagian aliran air masuk sawah para warga.
Sebenarnya cekcok antar warga soal aliran irigasi tidak asing lagi di kampung, tapi karena proyek itu semakin memperparah suasana. Perang dingin antar warga mencuat menjadi perkelahian. Itu yang membuat warga tidak lagi menghiraukan si tukang wabah membawa proyek masuk ke kampung, takut menyebabkan masalah baru.
Si Pandir yang gagap akhirnya tidak lagi menjaga pintu masuk pagar menuju sungai, dia sering muncul di lepau-lepau dengan cerita tukang pembawa wabah. Bagaimana proyek yang direncanakan ternyata lumayan bagus dan dalam perkiraannya menjadi proyek yang akan berhasil. Tapi siapa yang bakalan percaya dengan cerita dari tukang bohong? Warga telah khatam dengan akal-akalan yang dibuatnya. Oleh sebab itu, setiap Si Pandir datang, maka yang punya lepau segera memberinya sebatang rokok dan mengusirnya sebelum duduk.
Lantaran perbuatan warga kepadanya semakin parah, dia meminta pendapat kepada kepala kampung. Katanya, warga tidak lagi bersikap terbuka untuk hal-hal yang membangun kampung, apakah karena hasutan dari kepala kampung atau malah dihasut orang luar. Mendengar kata demikian, terkejut kepala kampung mendapati cerita itu.
“Seharusnya kita saling mengoreksi diri masing-masing sebelum menyimpulkan sikap orang lain kepada kita.” Jawab kepala kampung pada si Pandir.
“Bukan begitu, Pak. Saya tiap hari mengabarkan tentang proyek yang dibawa seorang kawan ke kampung, tapi malah ditanggapi sinis oleh masyarakat kita.”
“Iya, itu maksud saya. Seharusnya kalian tau bagaimana kecewanya masyarakat kita kepada proyek yang masuk. Sekian banyak proyek yang dibawa masuk kampung, tapi malah hanya meninggalkan kerjaan tak sudah.”
“Eh, bagaimana pula ceritanya, Pak? Bukankah proyek tersebut tidak lagi tanggungan dia, kan dia hanya membawa proyek masuk kampung saja dengan tujuan kepentingan bersama. Soal siap atau tidaknya, itu bukan urusan dia. Toh, kepala proyek ada dan PT yang menanggung biaya pun ada.” Jawab si Pandir.
Mendengar kata serupa itu, tidak digubris lagi oleh kepala kampung cerita Si Pandir. “Kalau begitu, biarkan saja masyarakat kita menilai sendiri. Saya tidak mempunyai andil soal pilihan masyarakat—mau atau tidak.” Menjawablah Si Pandir sekali lagi, “kalau begitu kata bapak, berarti bapak lepas tangan dengan apa yang terjadi di masyarakat bapak?” Kepala kampung tidak lagi menjawab perkataan Si Pandir, ia malah sibuk memberi makan ayamnya.
Di tempat lain, tukang pembawa wabah dikeroyok beberapa orang warga, karena tidak mau disuruh pindah lepau. Mendengar kabar demikian, bergegaslah Si Pandir menuju lepau tersebut guna melihat keadaan kawannya itu. Sesampai di lepau, ia temui tukang pembawa wabah tersandar di palanta lepau. Tidak ada terlihat terjadi apa-apa, namun, situasi agak senyap. Orang-orang yang duduk di lepau tidak ada berbincang apa-apa, tukang pembawa wabah diam saja sambil sibuk membaca selembar kertas.
Melihat si Pandir datang, menyahutlah temannya itu.
“Hoi.., dari tadi den menunggu, ke mana aja kamu?”
“Tadi ke rumah kepala kampung, menyampaikan sesuatu soal masyarakat kita yang mahabenar.” Jawab Pandir. Mendengar jawaban Pandir begitu, menoleh orang-orang di lepau kepadanya.
“Tidak apa-apa, kawan. Seperti kata orang-orang besar, ‘berbuat kebaikan itu lebih mendapatkan halangan ketimbang melakukan kejahatn’.”
“Wah, benar juga, ya. Seperti yang sudah kita niatkan kemarin, harus terus berusaha sebaik mungkin. Soal hasil biarlah Tuhan yang menentukan.” Jawab Si Pandir.
Mendengar percakapan dua orang kawan itu, beranjaklah orang-orang di lepau dibuatnya. Hanya tinggal mereka saja berdua, ditambah dengan orang punya lepau. Diceritakan ke tukang pembawa wabah bagaimana pertemuan Si Pandir dengan kepala kampung. Mereka sibuk membahas apa yang tertulis di selembar kertas itu, tukang pembawa wabah memaparkan banyak rencana kepada Si Pandir, tentang bagaimana proyek yang dibawa itu harus jalan dan akan sangat berguna bagi masyarakat dikemudian hari. Si Pandir terus diyakini niat baik tukang pembawa wabah, bahwa proyek kali ini tidak akan mangkrak lagi seperti yang sudah-sudah. Bagaimanapun juga keseharian Si Pandir gagap dari penjaga pintu pagar menuju sungai telah direnggut, ia tidak boleh putus ditengah jalan setelah melakukan keputusan untuk gabung bersama tukang pembawa wabah. Meski ia tau bahwa temannya tersebut sudah mendapat nama buruk dikalangan masyarakat kampung. Tapi kan di luar kampung tidak ada yang tau siapa tukang pembawa wabah itu. Si Pandir selalu berpikir positif kepada kawannya, agar tidak terjadi salahpaham dikemudian hari.
Mendapat kabar dari Si Pandir, tukang pembawa wabah mencari jalan lain untuk mendapatkan hati masyarakat. Paling tidak bisa meyakini kepala kampung untuk menerima proyek tersebut masuk. Urusan selanjutnya biarlah nanti ia pikirkan. Maka beranjak mereka berdua ke rumah ketua pemuda yang juga salah satu centeng di kampung. Ia ceritakan rencana proyek pengalihan air tersebut dengan jelas beserta bukti tertulisnya. Proyek yang akan masuk tersebut merupakan program dari salah satu anggota legislatif yang berasal dari kampung mereka sendiri. Namun lantaran kelamaan di rantau, tentu sangat susah nantinya mendapatkan perhatian warga saat pemilihan.
Mendengar cerita dari tukang pembawa wabah dan Si Pandir, ketua pemuda memberikan tanda-tanda baik. Tapi dengan satu syarat, pihak bertanggung jawab soal proyek harus datang menemuinya guna menyepakati beberapa kesepakatan. “Ini bukan soal proyek lagi, tapi menyangkut kenyamanan dan kesejahteraan masyarakat kita.” Sebut ketua pemuda itu kepada tukang pembawa wabah dan Si Pandir. Mendengar pendapat demikian, mereka langsung megiyakan. Mereka janjikan agak seminggu untuk menyuruh pihak bersangkutan untuk menemui ketua pemuda. Si Pandir tak tanggung girangnya setelah balik dari rumah ketua pemuda, belum lagi janji tukang pembawa wabah padanya akan memberikan jabatan sebagai mador proyek.
***
Sudah hampir sebulan, pihak yang bersangkutan tak kunjung datang menemui ketua pemuda. Tukang pembawa wabah dan Si Pandir mulai kehilangan akal. Ia lihat ketua pemuda juga tidak menanyakan kelanjutan cerita proyek tersebut, tukang pembawa wabah semakin malu muka, membuat ia benar-benar tidak mau duduk lagi di kedai. Sedangkan Si Pandir masih berharap atas apa yang dulu dijanjikan temannya itu.
Hingga suatu waktu sebuah traktor masuk kampung, dibawa mobil besar lengkap dengan orang-orang proyeknya. Mereka mulai mendirikan pedok di tepian sungai; ketua pemuda dan kepala kampung terlihat di sana. Di lepau, orang-orang mulai malu muka melihat tukang pembawa wabah dan Si Pandir. Tiap ditanya, tiap itu pula mereka mengelak tak dapat jawaban yang dipertanyakan dua orang karib itu.
Setelah melihat alat berat datang bergantian, sampai mereka memarkir alat berat itu empat unit di tepi sungai dengan penjagaan ketua pemuda dan beberapa anggotanya. Para pemuda diberi jatah bergiliran untuk menjaga alat berat tersebut satu kali seminggu dengan gaji lima ratus ribu seminggu. Tukang pembawa wabah dan Si Pandir hanya bisa mengusap dada, sebab mereka tidak dapat jatah barangsekalipun untuk menjaga alat berat.
Kejadian yang sama terulang kembali, proyek-proyek yang masuk juga akhirnya mangkrak dan demi menyembunyikan ulah kepala kampung dan ketua pemuda, tukang pembawa wabah selalu menjadi kambing hitam dalam persoalan tersebut. Padahal dia tidak pernah ikut serta dalam kesepakatan. Kata mereka, tukang pembawa wabahlah yang membawa proyek tersebut masuk kampung, kalau tidak ia suruh yang bersangkutan datang, pasti tidak akan terjadi nego antara ketua pemuda dan yang bertanggung jawab atas proyek.
Sampai bertahun-tahun luka itu dipendam tukang pembawa wabah, dan Si Pandir tau betul siapa pembuat ulah sebenarnya, sehingga ia memagar tahannya yang ada di tepian sungai. Sampai tidak ada satu orangpun yang berani lewat di sana. Jangankan manusia, binatang saja lewat pagar itu akan ditebas oleh Si Pandir yang gagap dengan parang. Itu sudah ia buktikan, seekor jawi menjadi korban tebasan parang Si Pandir, belum lagi perkelahian ia dengan pekerja proyek yang mencoba membongkar pagar milik dia untuk menjadikan tanahnya sebagai jalur keluar masuk mobil pengangkut pasir pengalihan air.
Padahal, dulunya tukang pembawa wabah telah mejanjikan jika proyek tersebut masuk, semua warga berhak kerja di sana secara bergiliran, ditambah lagi sebagai penjaga alat berat adalah milik pemuda-pemuda kampung kami. Tidak ada yang akan berubah setelah proyek itu masuk, anak-anak tetap diperbolehkan mandi ke sungai dan tepian tidak akan dirusak proyek. Tukang pembawa wabah telah membuat denah pengalihan air dengan baik, tanpa menganggu aktivitas warga kampung. Tapi bagaimana lagi, ia hanya seorang pengangguran yang tidak memiliki jabatan apa-apa di kampung, ditambah lagi karibnya yang hanya seorang pemuda gagap pengurus ladang. Apa boleh buat, mereka terpaksa diam dan Si Pandir melanjutkan pekerjaannya di ladang, tidak mau ikut campur lagi urusan kampung. pagar yang dibuat Si Pandir sampai bertahun-tahun menjadi sebuah penghalang warga menuju sungai, sebab hanya itu satu-satunya jalur yang bagus untuk ke tepi sungai. Meski telah dibuat tepian baru, tapi tidak ada yang berani mandi di sana dengan batu-batu berlapiskan kawat, ditambah pula dengan rankaian besi pelapis yang tak jadi bisa menimbulkan celaka.
Sejak kejadian itu, kami tidak lagi memiliki tempat bermain di sungai. Semuanya telah lenyap akibat proyek gagal yang masuk kampung. Dulu, waktu pembangunan irigasi, lapangan bola kami di sawah milik seorang warga juga lenyap. Kemudian kami membuat lapangan Volly, juga lenyap gara-gara pembuatan parit. Sekarang anak-anak sibuk bermain di dalam rumah, tidak ada inisiatif apa-apa dari pejabat kampung; ketua pemuda dan kepala kampung. Kami hanya tinggal segerombolan bocah tanpa kegiatan apa-apa.
Arif P. Putra, berasal dari Surantih, Kab. Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Buku tunggalnya yang telah terbit “Suara Limbubu” (JBS, Yogyakarta 2018) dan sebuah novel “Binga” (Purata Publishing, 2019).

Post a Comment
Post a Comment