-->

Kabar Sumbang Sebutan Gunung dan Bukit: Gunung Giriak, Gunung Rajo dan Gunung Malelo.

 


Catatan ini saya tulis saat di kamar mandi, ketika suara kran sengaja saya perbesar dan mendengarkan air jatuh berebutan mengantarkan ingatan kepada sebuah kisah lama di Surantih. Sebutan Gunung kepada Bukit. 

Bukit dalam artian Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sebuah tumpukan tanah yang lebih tinggi daripada tempat sekelilingnya. Biasanya bukit ini banyak ditemui di perkampungan, sama halnya dengan Gunung Giriak, Gunung Rajo, dan Gunung Malelo yang terlokasi di Surantih, Kec. Sutera. Lalu mengapa disebut sebagai Gunung?
Bila ditarik kembali pengertian Gunung dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Gunung ialah bukit yang sangat besar dan tinggi (biasanya tingginya lebih dari 600 M).

Nah, alkisah di jaman penjajahan Jepang, Giriak menjadi markas para prajurit Jepang. Di sana mereka mendirikan kamp, yang berada tepat di sebuah goa. Mitosnya, Gunung Giriak merupakan kapal penjajah Jepang yang ditenggelamkan oleh para pemberontak pribumi waktu dulu, sehingga seiring berjalannya waktu kapal tersebut digerogoti tumpukan tanah, dan membentuk sebuah gumpalan besar seperti bukit. Meski demikian, cerita tersebut tidak semata diyakini banyak orang. Walau beberapa penemuan masyarakat juga merujuk ke sana, seperti goa berisi harta karun, kebun buahan yang luas dan sebuah perkampungan (mistis). Soal sebutan Gunung Giriak menjadi hapalan turun temurun, dan itu tidak perlu disanggah. Meski dalam artian sebenarnya meleset.

Di Gunung Giriak, terdapat beberapa bukit lainnya, Bukik Panjang (bukit panjang, bukit sianok, dan lainnya). Tapi mengapa hanya gunung Giriak yang disebut sebagai Gunung?
Cerita ini ternyata punya histori yang panjang. Dikabarkan dari tukang asak jawi, ternyata di Surantih ada tiga bukit yang disebut Gunung, yaitu Gunung Rajo (sungai sirah), Gunung Giriak (dekat Sianok) dan Gunung Malelo (Gunung Malelo).
Ia kabarkan bahwa tiga Gunung ini merupakan sebuah benteng, bila dilihat dari atas maka berbentuk sebuah piramida. Jalur ini dulunya adalah jalur pelarian orang-orang kampung, baik gerilyawan, warga, penjajah, dan penyamun.
Gunung Rajo terletak di tepian pantai Sungai Sirah, Gunung ini dikenal dengan daya magis dan batu kalimayanya. Tidak menjadi rahasia lagi, bagaimana orang-orang menelanjangi Gunung Rajo untuk mengerus isinya. Gunung Rajo ini juga dikabarkan sebagai tempat sakral kaum Melayu, dimana kuburan raja Melayu terdapat di sana sehingga dijadikan sebuah tampat (sekarang sudah tidak ada). Dari Gunung Rajo ini bermuaranya sesuatu hal, seperti dagang, hasil laut dan pengaduan. Setelah itu bermudik ke Gunung Giriak. Bila dicermati dari pesisir pantai, Gunung Giriak dan sekitarnya seperti sebuah benteng besar yang melindungi Surantih bagian dalam. Di Gunung Giriak lah semuanya berkumpul, para serdadu Jepang, dan berpuluh senjata yang mereka bawah untuk melakukan berbagai macam aksi. Walau tidak banyak yang tau, di samping Gunung Giriak terdapat Bukit Panjang yang menyimpan para gerilyawan. Dari Gunung Giriak, mereka melintasi sungai yang berhilir dari hulu Langgai menuju tepian Gunung Malelo, di Gunung Malelo hanya ada hutan luas, memiliki potensi emas dan bara. Belum lagi rempah yang tumbuh liar. Bila pedagang luar melihat dari bawah, seperti pohon uang tergeletak di atas sana. Tiga Gunung ini menjadi rute orang dahulu, baik sebagai gerilyawan, jawara, pejudi, pedagang, penyamun ataupun warga biasa. Titik aman mereka adalah Gunung Malelo, sebab dari sana mereka bisa melarikan diri lebih luas bila dibandingkan dua lainnya.

Alasan mengapa tiga bukit itu disebut sebagai Gunung hanya soal kebiasaan saja, orang dahulu beranggapan bahwa tiga bukit itu sangatlah tinggi dan luas, sehingga mereka berpikir itu adalah sebuah Gunung (tidak perlu disanggah). Meski pada kenyataannya masih banyak bukit yang lebih tinggi dari ketiga bukit tersebut di Surantih, misalnya bukit Langgai, Bukit Aua, Bukit Sianok, Bukit Singkulan, Bukit Kayu Aro, Batu Bala dan lainnya. Tapi historis dari tiga bukit yang disebut Gunung itu lebih meyakinkan dan memang memiliki beberapa cerita lainnya lagi, yang tak kala bersejarah.
Bila di Gunung Rajo punya batu mulia Kalimaya, Gunung Giriak punya goa Mistis berisikan kebun buah-buahan; kapal Jepang, harta karun dan pemukiman orang bunian. Sedangkan Gunung Malelo, memiliki para jawara dan sutan-sutan yang dikenal sakti, salah satunya Rajo Malelo, Bujang Jibun dan tambang emas--bara. Cerita ini tidak banyak yang tau, entah sengaja disembunyikan atau memang tidak benar adanya.

Setelah saya matikan kran air, dalam bak beralun bagai riak nasib orang-orang Gunung. Para peladang dan nelayan yang akrab dengan Gunung-gunung tersebut. Pantai Gunung Rajo memiliki kebiasaan meminta tumbal, Gunung Giriak yang suka menyesatkan dan membawa mereka ke dunia hayal bagai di surga. Pun, Gunung Melelo yang menyimpan Celeng berkalung mustika, kawanan tapir, dan harta karun tersembunyi.
Lama aku duduk dalam kamar mandi, perut sakit tapi tak kunjung mengeluarkan apa-apa. Angin di luar semakin kencang, hujan yang deras dan dilema kipas angin dengan gerombolan nyamuk. 
Maka aku tulis kabar lama ini, barangkali tak sempat disampaikan penyanyi wanita kebanggaan, Erni. Atau maestro Pirin Asmara, panutanku. Catatan ini benar-benar saya tulis dalam keadaan genting, saat berusaha melawan perut sakit dan menulis banyak hal waras. Kalau menarik saat saya baca minggu depan, catatan ini akan saya sambung dengan cerita rombongan gerilyawan dari (........) tentu dengan catatan sebuah kaba/kabar. 

Muara: Ini mitos atau nyata saya tidak tau, yang pasti ini adalah sebuah cerita. Untuk pembuktian silakan ditelusuri sendiri Gunung-gunung tersebut, mereka masih ada dan menjadi saksi banyak peristiwa keren. 

Penulis, Arif P Putra (yang berbicara pada tukang asak jawi) 
Arif P. Putra
Saya seorang pengarang; menulis Puisi, Cerpen, dan Novel. Saya juga menulis tulisan Ilmiah sebagai alternatif lain mengasah kemampuan menulis saya. Ini merupakan ruang untuk membagikan tulisan-tulisan yang saya hasilkan, baik sudah dimuat media lain ataupun spontan.

Baca Lainnya

Post a Comment

Ikuti Sang Penyair Arif P. Putra