-->

Panga: Emansipasi dan Feminisme, Cinta Suami yang Telah Utuh






Judul: Panga
Durasi: 131 menit
Negara: India
Bahasa: Hindi

Panga adalah  sebuah film drama olahraga berbahasa India India 2020 yang disutradarai oleh Ashwiny Iyer Tiwari dan diproduksi oleh Fox Star Studios. Film ini menampilkan Kangana Ranaut, Jassi Gill, Richa Chadda dan Neena Gupta. Kisah ini menggambarkan kehidupan seorang pemain kabaddi yang periang.  Film ini dibuat dari November 2018 hingga Juli 2019 di Panaji, Bhopal, Delhi dan Kolkata. 

Prashant Sachdeva sebagai suami mengajarkan kita bagaimana menahan sikap dengan kepada sang istri, keras kepala dan disiplin. Sebagai mantan kapten Kabaddi timnas India, Jaya Nigam jelas membawa sikap disiplin tersebut sampai kerumah tangganya. Ditambah lagi cita-citaya yang pupus lantaran harus memilih karir atau membesarkan anaknya. Dalam film ini, tampak jelas bagaimana ego Jaya lebih tinggi dibanding Prashat, wanita selalu memposisikan dirinya dengan ibu rumahtangga, dan menjadikan hal tersebut sebagai pembelaan saat mereka berada pada situasi bersitegang soal keluarga. 

Emansipasi wanita dalam film ini memang sengaja dimunculkan, bagaimana drama-drama yang dihadirkan membuat kita berpikir (kaum lelaki), bahwa wanita memang selalu benar. Apa-apa yang mereka lakukan dalam kehidupan rumahtangga, pasti selalu ingin diharga sebagai paling ulung. Film ini membawakan sajian lain dari dunia Feminisme India, dimana perempuan masih diberi kesempatan untuk menentukan jalan hidupnya. Dibagian lain, pelajaran sabar ditawarkan Prashant, ia hanya melakukan adegan marah satu kali dalam film ini, itu pun kemarahan yang tidak berarti. Hanya ungkapan kecewa yang singkat, tidak berpengaruh apa-apa pada adegan selanjutnya. Adegan itu terjadi saat Adi anaknya mengikuti acara di sekolah, kemudian sang ayah merias wajah anak agar menyerupai macam, tapi malah tak karuan. Saat itu demi menenangkan sang anak, Prasahant menelpon Jaya. Jaya akan melakukan debut pertamannya, dan saat itu Jaya mengatakan bahwa Prashant tidak bisa melakukan apa-apa tanpa dia dan menghina bagaimana lemahnya Prashant tanpa dia di rumah. Bukan kali itu saya Jaya memarahi Prashant, ada beberapa adegan lagi. 



Alih-alih ingin menampilkan kehidupan olahraga, malah membawa film Panga pada sekelumit keegoisan seorang istri dalam kehidupan rumahtangganya. Panga seolah menyampaikan, bahwa dalam setiap emansipasi wanita, harus ada lelaki yang bersedia meredam egonya, mengalah dan melemahkan keinginannya. Panga adalah kisah seorang suami yang begitu menyayangi sang istri, kecintaan yang paling utuh telah ia miliki, tanpa pamrih dan benci. 

Film seperti ini bukan kali pertama dibuat oleh perfilman Bollywood/Tollywood, film-film serupa acap kali ditulis dan difilmkan: keluarga, sosial, agama, percintaan, sejarah dan budaya. Meski selalu menyajikan kejutan-kejutan baru, tapi tetap saja tidak menemukan kebaruan yang baru. Meski begitu, mereka tetap menjadi negara paling banyak membuat film di dunia, tentu yang mereka munculkan seputar kehidupan sosial dan percintaan, drama tersebut memang adalah ciri khas dari negara tersebut. Panga seharusnya ditonton banyak perempuan, agar mereka tau bagaimana lelaki memperlakukan mereka lebih dari dirinya sendiri.  Saya rekomendasikan film ini untuk para pria. 

(Arif P Putra)
sumber poto: Google

Arif P. Putra
Saya seorang pengarang; menulis Puisi, Cerpen, dan Novel. Saya juga menulis tulisan Ilmiah sebagai alternatif lain mengasah kemampuan menulis saya. Ini merupakan ruang untuk membagikan tulisan-tulisan yang saya hasilkan, baik sudah dimuat media lain ataupun spontan.

Baca Lainnya

Post a Comment

Ikuti Sang Penyair Arif P. Putra