Aku menyesali tidak bisa mendapatkan bukti fisik sejarah kampungku. Sebagai putra daerah, penyesalan itu aku bawa kemana-mana. Bila ada perbincangan soal kampung-kampung, aku tidak dapat menceritakan lebih jelas bagaimana kampungku, apa yang istimewa dari kampungku dan bagaimana cerita kampung yang kutinggali sejak kecil itu dibangun. Tentu semua itu bukan semata kesalahanku, juga bukan kelemahan kedua orangtuaku yang awam. Adapun tetua di kampung yang masih hidup, tidak dapat dikenali lagi bahasanya yang ngawur, suka mengalihkan pembicaraan. Aku mengakui kelemahan tersebut kepada kawan-kawan, kepada perbincangan forum bebas dan formal.
Aku pikirkan bagaimana cara ampuh untuk mengakali itu semua, dan suatu waktu aku coba cara lama yang diajari beberapa orang sanak. Aku berupaya menyampaikan perkataan takabur di setiap tempat-tempat yang dianggap magis di kampungku, agar mereka datang dimimpiku atau paling tidak menunjukan sesuatu. Seorang teman pernah pula berkata, bahwa kampungku termasuk salahsatu kerajaan yang disegani pada masanya. Saat aku tanya bukti fisik yang ditinggalkan, ia menjawab klise dan tidak merujuk pada apa-apa.
Aku mempercayai itu dalam segi cerita, tapi tidak dapat aku tangkap dari segi sejarahnya. Bila benar itu adalah sebuah sejarah kampungku, setidaknya ada setapak jejak pondasi atau buku jelek yang bisa dibaca. Bukan hanya cerita ngelantur yang datang dari para tetua, kemudian menggadang-gadang kita paling istimewa dari banyak kampung lain. Semuanya akan menjadi lelucon, saat aku ceritakan pada orang-orang yang paham sejarah. Misalnya, kedikdayaan Rajo Melayu di Sutera, yang bertempat di Gunung Rajo. Katanya, sebelum kerajaan tersebut datang, Rajo Kampai adalah satu-satunya penguasa yang disegani. Bila dipahami secara awam, cerita ini sangat masuk akal, karena secara garis besar masyarakat Sutera bersuku Kampai. Suku ini merupakan Suku yang berasal dari Kerajaan Sungai Pagu yang nama lengkapnya adalah Alam Surambi Sungai Pagu. Suku ini bersaudara dengan suku lainnya, yakni; Melayu, Panai dan Tigolareh.
Penyebaran terbanyak suku ini di kampungku adalah Kampai dan Melayu, selain itu, Panai termasuk kriteria bawah (penyebarannya). Tigolareh mungkin ada beberapa, tapi sangat jarang sekali. Kalaupun ada, pasti bukan masyarakat asli Sutera. Orang kampungku beranggapan Kampai adalah suku pertama yang masuk sebelum ketiga suku lainnya. Suku ini sempat berjaya sebelum suku Melayu datang. Begitu kabar dari beberapa sumber tetua.
Cerita ini sangat jarang sekali dikabarkan para tetua. Melalui rabab Pirin Asmara, kabar percintaan dan kemelaratan didendang olak olai. Mengabarkan kerinduan dan kisah percintaan yang diantarkan menjadi pengobat rindu. Tentu anak-anak milenial tidak bakalan tau bagaimana puitisnya Pirin mengabarkan kisah. Penuh dengan ratap yang tak jadi, tangis yang ditahan dalam-dalam, sedalam sungai-sungai Pesisir. Hanya itu yang bisa mengobat rindu, mendengar kaba-kaba yang tak sempat disampaikan oleh “pemalas” terdahulu pada cucu. Andai tidak ada kabar lengang dari Pirin, tentu aku dan sejawat tidak akan tau bagaimana sibuknya orang-orang terdahulu dengan kisah gadih basanai, perjalanan sutan-sutan dan romannya jalanan Pesisir Selatan yang terbentang lurus tabung, tapi tak terurus.
Kali pertama aku dapatkan sedikit cerita bohong bagaimana kampungku dibangun ialah saat kelas empat SD. Aku masih ingat nenek menceritakan bagaimana ia diburu para prajurit Balando, disorak hilir semak. Goa hasil buatan sendiri, dan persembuyian di lembah bukit. Tapi tidak ada satupun yang menjelaskan bukti fisik untuk dapat membenarkan kejadian itu. Bagaimana antek-antek Balando menjadi mata-mata, membawa para dubalang pandir jauh entah ke mana. Belum lagi anak-anak bujang yang digilir membawa upeti. Di kampungku, tidak ada satupun bukti nyata, selain cerita kosong melompong yang menepuk dada “di sinilah Tinju Langgai itu besar, mengusir para penjajah.” Sungguh membosankan bila harus mengingat omong kosong itu, sebab aku pernah meyakini cerita tersebut akan berkembang saat aku beranjak dewasa, semakin jelas dan dapat kulihat bukti fisik yang ditinggalkan.
Aku bayangkan masa-masa kecil dulu, masa tiap malam mendengarkan omong kosong cerita rakyat, legenda, hikayat dan lainnya. Bagaimana Bujang Jibun sang jawara itu berbohong, bagaimana cantiknya anak-anak Gunung Rajo mencari kutu saat senja pulang, orang-orang bunian yang ramai, cinaku, air jernih berikan jinak. Atau hanya tapir kesasar dianggap dewa turun bukit, bahwa tulakbala harus segera dilaksanakan.
Orang-orang yang datang dari masa lalu pada mimpiku adalah orang-orang yang menitipkan petuah. Alasan aku menuliskan berbagai cerita mereka dari tiap generasi, kesulitan yang kualami tidak sebanding dengan kehancuran mereka meninggalkan rumah untuk bersitungkin mengelabui orang-orang jarah. Omong kosong yang beredar adalah ceita terlama, kenangan-kenangan pengobat rindu, dendang rantau yang tak sempat pulang. Dan kaba terbaik yang disampaikan maestro picisan lewat rabab. Aku tidak mempercayai itu, tapi aku yakini bahwa aku mencintai mereka: kampungku, sejarah omong kosong, lelucon dan petuah yang ditingglkan. Aku simak itu semua, meski aku tau hanyalah bualan. Peradaban yang datang dari masa lalu membawakan berbagai petualangan dalam hidupku, kesederhanaan, kepenulisan dan keteguhan hati. Apa-apa yang kuselipkan dari tulisan hanyalah sentimen orang-orang yang datang dari masa depan, sepenuh hati menepuk dada di lepau, di alek, dipertemuan lainnya.
Penulis, Arif P. Putra
Aku pikirkan bagaimana cara ampuh untuk mengakali itu semua, dan suatu waktu aku coba cara lama yang diajari beberapa orang sanak. Aku berupaya menyampaikan perkataan takabur di setiap tempat-tempat yang dianggap magis di kampungku, agar mereka datang dimimpiku atau paling tidak menunjukan sesuatu. Seorang teman pernah pula berkata, bahwa kampungku termasuk salahsatu kerajaan yang disegani pada masanya. Saat aku tanya bukti fisik yang ditinggalkan, ia menjawab klise dan tidak merujuk pada apa-apa.
Aku mempercayai itu dalam segi cerita, tapi tidak dapat aku tangkap dari segi sejarahnya. Bila benar itu adalah sebuah sejarah kampungku, setidaknya ada setapak jejak pondasi atau buku jelek yang bisa dibaca. Bukan hanya cerita ngelantur yang datang dari para tetua, kemudian menggadang-gadang kita paling istimewa dari banyak kampung lain. Semuanya akan menjadi lelucon, saat aku ceritakan pada orang-orang yang paham sejarah. Misalnya, kedikdayaan Rajo Melayu di Sutera, yang bertempat di Gunung Rajo. Katanya, sebelum kerajaan tersebut datang, Rajo Kampai adalah satu-satunya penguasa yang disegani. Bila dipahami secara awam, cerita ini sangat masuk akal, karena secara garis besar masyarakat Sutera bersuku Kampai. Suku ini merupakan Suku yang berasal dari Kerajaan Sungai Pagu yang nama lengkapnya adalah Alam Surambi Sungai Pagu. Suku ini bersaudara dengan suku lainnya, yakni; Melayu, Panai dan Tigolareh.
Penyebaran terbanyak suku ini di kampungku adalah Kampai dan Melayu, selain itu, Panai termasuk kriteria bawah (penyebarannya). Tigolareh mungkin ada beberapa, tapi sangat jarang sekali. Kalaupun ada, pasti bukan masyarakat asli Sutera. Orang kampungku beranggapan Kampai adalah suku pertama yang masuk sebelum ketiga suku lainnya. Suku ini sempat berjaya sebelum suku Melayu datang. Begitu kabar dari beberapa sumber tetua.
Cerita ini sangat jarang sekali dikabarkan para tetua. Melalui rabab Pirin Asmara, kabar percintaan dan kemelaratan didendang olak olai. Mengabarkan kerinduan dan kisah percintaan yang diantarkan menjadi pengobat rindu. Tentu anak-anak milenial tidak bakalan tau bagaimana puitisnya Pirin mengabarkan kisah. Penuh dengan ratap yang tak jadi, tangis yang ditahan dalam-dalam, sedalam sungai-sungai Pesisir. Hanya itu yang bisa mengobat rindu, mendengar kaba-kaba yang tak sempat disampaikan oleh “pemalas” terdahulu pada cucu. Andai tidak ada kabar lengang dari Pirin, tentu aku dan sejawat tidak akan tau bagaimana sibuknya orang-orang terdahulu dengan kisah gadih basanai, perjalanan sutan-sutan dan romannya jalanan Pesisir Selatan yang terbentang lurus tabung, tapi tak terurus.
Kali pertama aku dapatkan sedikit cerita bohong bagaimana kampungku dibangun ialah saat kelas empat SD. Aku masih ingat nenek menceritakan bagaimana ia diburu para prajurit Balando, disorak hilir semak. Goa hasil buatan sendiri, dan persembuyian di lembah bukit. Tapi tidak ada satupun yang menjelaskan bukti fisik untuk dapat membenarkan kejadian itu. Bagaimana antek-antek Balando menjadi mata-mata, membawa para dubalang pandir jauh entah ke mana. Belum lagi anak-anak bujang yang digilir membawa upeti. Di kampungku, tidak ada satupun bukti nyata, selain cerita kosong melompong yang menepuk dada “di sinilah Tinju Langgai itu besar, mengusir para penjajah.” Sungguh membosankan bila harus mengingat omong kosong itu, sebab aku pernah meyakini cerita tersebut akan berkembang saat aku beranjak dewasa, semakin jelas dan dapat kulihat bukti fisik yang ditinggalkan.
Aku bayangkan masa-masa kecil dulu, masa tiap malam mendengarkan omong kosong cerita rakyat, legenda, hikayat dan lainnya. Bagaimana Bujang Jibun sang jawara itu berbohong, bagaimana cantiknya anak-anak Gunung Rajo mencari kutu saat senja pulang, orang-orang bunian yang ramai, cinaku, air jernih berikan jinak. Atau hanya tapir kesasar dianggap dewa turun bukit, bahwa tulakbala harus segera dilaksanakan.
Orang-orang yang datang dari masa lalu pada mimpiku adalah orang-orang yang menitipkan petuah. Alasan aku menuliskan berbagai cerita mereka dari tiap generasi, kesulitan yang kualami tidak sebanding dengan kehancuran mereka meninggalkan rumah untuk bersitungkin mengelabui orang-orang jarah. Omong kosong yang beredar adalah ceita terlama, kenangan-kenangan pengobat rindu, dendang rantau yang tak sempat pulang. Dan kaba terbaik yang disampaikan maestro picisan lewat rabab. Aku tidak mempercayai itu, tapi aku yakini bahwa aku mencintai mereka: kampungku, sejarah omong kosong, lelucon dan petuah yang ditingglkan. Aku simak itu semua, meski aku tau hanyalah bualan. Peradaban yang datang dari masa lalu membawakan berbagai petualangan dalam hidupku, kesederhanaan, kepenulisan dan keteguhan hati. Apa-apa yang kuselipkan dari tulisan hanyalah sentimen orang-orang yang datang dari masa depan, sepenuh hati menepuk dada di lepau, di alek, dipertemuan lainnya.
Penulis, Arif P. Putra

Post a Comment
Post a Comment