-->

Cerpen: Nango (Terbit di Haluan edisi 12 April 2020)



Nango akhirnya menyudahi perkara itu. Debat yang sudah berlaru-larut sampai seminggu ini. Nango sangat kesal, lantaran Muis terus menggeser pagar miliknya. Tiap Muis memperbaiki pagar, tiap itu pula pagar baru berdiri. Nango tidak masalah bila Muis terus memperbaiki pagar, toh, bagus juga bagi tanahnya. Tapi Muis agaknya bermaksud lain, sudah bertahun-tahun kejadian itu diketahui Nango, namun karena malas mengurus hal sepele itu, ia biarkan saja. Tapi semakin lama, semakin kecil pula dipandang mata tanah miliknya.
Tanah yang sudah dibagi itu sebetulnya tidak ada masalah lagi, soal pembagian besar atau kecil. Bila dihitung besarnya, sudah barangtentu bagian untuk Muis sangat besar ketimbang punya Nango. Bagaimana lagi, saat pembagian tanah, Nango masih mempunyai satu orang anak lelaki, sedangkan Muis sudah punya empat orang. Muis menjadikan anak sebagai acuan untuk mendapatkan tanah lebih besar. Ibu Nango hanya punya dua orang anak lelaki, mau tidak mau tanah pusakanya harus dibagi kepada dua orang anaknya itu. Nango sebenarnya punya satu orang adik perempuan, tapi ia meninggal saat umurnya 20 tahun. Kematiannya tidak pernah diketahui banyak orang. Cuma asumsi masyarakat mengatakan bahwa ia meninggal lantaran kelalain Muis sewaktu menangani demam adik bungsunya itu. Hal tersebut menjadi penyebab Nango harus angkat koper dari rantau dan pulang guna membantu adiknya yang sakik. Tapi naas, sebelum sampai di rumah, gadis 20 tahun itu meninggal, tidak tau persis apa penyebabnya.

Tidak lama berselang, Muis mengajukan keinginan kepada ibunya yang juga sudah tua renta. Dengan alasan umur, sebaiknya sang ibu membagi tanah-tanah miliknya. Awalnya tanah tersebut akan dibagi tiga bagian, satu bagian untuk Muis, satu lagi untuk Nango dan satunya lagi untuk kampung. Ibu Nango punya inisiatif membagikan tanah tersebut untuk keperluan kampung, rencananya akan dibuat tempat pos ronda, kalau masih ada lebihnya, bisa dipergunakan untuk lapangan volly atau takraw. Masyarakat kampung memang belum punya lapangan olahraga, daripada terus numpang main di kampung sebelah yang sering menimbulkan pertengkaran, inisiatif tersebut muncul dari sang ibu.
Tapi apa hendak dikata, Muis tidak terima. “Ibu punya banyak cucu, meski anak ibu keduanya tinggal lelaki saja. Setidaknya pikirkan cucu ibu yang perempuan.” Kata Nango demikian.
“Saya setuju pendapat ibu, ada yang akan diingat anak cucu kelak, bahwa tanah tersebut hasil hibah dari ibu.” Sahut Nango. Muis langsung naik pitam setelah Nango mengeluarkan argumennya tersebut.
“Kau tau apa, Nango? Seharusnya kau di rantau saja, tidak usah pulang. Menganggu situasi saja!” Bentak Muis menatap Nango seperti ingin memakannya saja.
Rencana itu batal. Muis terus bersikeras meski melalui vote lebih banyak setuju dengan pendapat ibunya. Muis memang agak lain soal harta orang tuanya. Terakhir kali ia terlibat cekcong dengan tetangga sebelah, lantaran ia dituduh menggeser pagar ke tanah sebelah. Muis tidak pernah mengakui perbuatnnya itu, walau pada kenyataannya sudah terbukti jelas ia terus saja menggeser pagarnya ke tanah sebelah. Hal tersebut juga dilakukan di tanah Nango. Ia berpikir buat apa tanah besar bagi Nango, toh, ia hanya punya satu orang anak, lelaki pula. Nango tidak pernah membantah tuduhan itu.
Di kampung, pembagian tanah pusaka seharusnya memang untuk anak perempuan. Karena adik Nango sudah meninggal, maka dari itu tanah dibagi kepada dua orang anak lelakinya. Dari sana, Muis berpendapat bahwa pembagian tanah seharusnya bulat pada dia. Ia punya dua orang anak perempuan, tentu nanti butuh tanah untuk membuat rumah bila kelak ia berumah tangga. Pendapat Muis tersebut sudah berulangkali dipatahkan tetua kaum. Bahwasanya pembagian tetap sama besar, anak dan istri tidak masuk dalam penghitungan pembagian harta pusaka orang tua. Kecuali harta tersebut hasil pembelian dari suaminya. Seperti biasa, Muis selalu naik pitam bila diajarkan demikian. “Tau apa kalian soal pembagian!” sebutnya.
Nango hanya bisa mengusap dada bila berurusan dengan Muis. Sejak memutuskan merantau, Nango ingin jauh dari keberadaan Muis, ia tidak mau sesuatu yang buruk harus terjadi sebab perangai kakaknya itu. Pikirnya setelah merantau ia akan lepas dari keberadaan Muis, tapi ternyata tidak. Malah semakin parah. Ia pikir adiknya akan baik-baik saja, sebab gadis itu tidak punya riwayat hidup soal penyakit. Kalaupun ada, palingan penyakit-penyakit biasa: demam, sakit perut, datang bulan dan lainnya. Nango sebenarnya sudah curiga atas kepergian adiknya itu, sebab beberapa waktu lalu gadis itu sering menitip surat untuk Nango. Inti surat yang ia layangkan selalu saja menyuruh pulang dengan alasan rindu atau ibu sakit.

Nango tidak menuduh Muis secara langsung saat pertengkaran apapun. Pada hari itu Nango agaknya tidak tahan lagi. Muis tau, Nango baru saja mendapatkan seorang anak perempuan, tentu Nango pusing memikirkan keuangan keluarga. Sebab sudah beberapa bulan Nango tidak bekerja. Terakhir kali ia menanam singkong di tanah yang sudah dibagi, tapi naas pula, singkoknya sering terbongkar. Nango berpikir itu kerjaan ciling, lantaran di tanah miliknya memang tempat ciling turun dari bukit.
“Sekarang saya tanya, Is. Saat singkongku lenyap dimakan ciling, mengapa punya kamu tidak?”
“Kau saja yang bodoh, tidak memasang perangkap.”
“Hei, aku memasang jerat di tiap sudut pintu labuh ciling.”
“Ya, mengapa tidak di sepanjang pagar?”
“Aku memang tidak sepertimu yang serba ada.” Sindir Nango. Ia tau jerat yang dipakai Muis itu berasal darimana. Muis mendapatkan jerat itu dari hasil pemberian seorang caleg untuk kaum kami.
“Sudahlah, sekarang begini saja, kau kan butuh uang, aku beli setengah hektar tanahmu.” Sebut Muis.
Dada Nango seperti bergejolak ingin melemparkan parang ke mulut Muis. Pria itu menawar tanah Nango. Tapi Nango berusaha meredam amarahnya, ia tau kakaknya itu memang suka mencari ribut. Setelah itu sudah pasti ia akan menang dan membuat opini beragam yang mengundang tetua kaum untuk turun tangan menyelesaikan. Saat itulah ia akan bermain dan memenangkan maunya. Nango tetap tenang menghadapi kakaknya itu. Kemudian Nango mengajukan permintaan untuk mengukur kembali tanah yang sudah dibagi tersebut. Tentu saja Muis menolak permintaan itu. Nango berjanji akan mengganti pagarnya dengan yang baru, asal Muis mau mengukur kembali tanahnya dengan tanah Nango. Kali ini Muis tersudut, beberapa orang yang bermasalah dengannya pun datang mengiyakan permintaan Muis.
Tak lama berselang, Muis lari ke rumah. Beberapa menit kemudian ia muncul dengan sebilah celurit. Nango gagap, orang-orang yang ikut mengiyakan tadi tertunduk dan langsung menuju tanahnya sambil pura-pura mencangkul. Nango bukan pria sembarangan, ia habis kesabaran, terpaksa ia tantang kakaknya itu. Sambil membawa celurit tidak bersarung itu, ia terus menebas tiap semak yang menghalangi. Di belakang Muis, dua anak lelakinya mengikuti sambil membawa sebatang kayu.
“Bagaimana? Tetap kita ukur ulang tanah ini?” tanya Muis sambil terus menebaskan celuritnya ke batang pisang.
“Tentu saja!” jawab Nango
“Kalau terbukti tanah ini masih sama ukurannya, bagaimana?”
“Kau mau memberikan setengah hektar tanahmu, lantaran telah membuatku malu.” Sebut Muis.
“Baik. Bila tetap sama, ambil semua tanahku untukmu. Tapi apabila tidak, kau perbaiki pagar ini seperti semula dan anggap kita tidak punya urusan apalagi.” Sambut Nango.
“Oh... Kau menantang, ya?”
Anak lelaki Muis seperti bersiaga bila sewaktu-waktu perkelahian terjadi, ia akan ikut menebas Nango dengan kayunya. Tapi Nango tidak orang bodoh, ia centeng di kampung, itu sebabnya ia bawa dirinya pergi biar tidak membuat aib keluarga. Nango memandang tajam kepada kedua anak Muis, nango berusaha mengintimidasi dua pemuda itu dengan tatapan. “Bila kau tidak tau dalamnya lautan dan pedasnya tangan Nango, pulanglah dulu dan bertanya pada ibumu.”
Dua pemuda itu tertunduk. Nango membentaknya dan menyuruh pergi. Pemuda itu beranjak dan tak menghiraukan ayahnya yang terus menyuruh bertahan. Tapi Nango terus menghakiminya dengan penyataan serupa. Barangkali mereka tau siapa Nango pada masa bujangnya. Pria itu pernah membacok seorang maling yang kepergok mencuri tanaman seorang warga. Kemudian Nango adalah satu-satunya pemuda di kampung yang berani mengusir beberapa orang caleg lantaran memasukan sebuah proyek bodong ke kampung. Nango memang tidak kenal kompromi bila bermasalah dengan orang luar. Itu penyebab ia lama menghilang dari kampung, ibunya mau Nango berubah, tidak tempramental lagi. Terbukti, sejak kepergian Nango niat mulus proyek-proyek bodong dimuluskan oleh Muis. Terakhir kali ia menawarkan sepetak tanah di tepi sungai untuk dibuatkan posko partai. Dan itu tetap berjalan mulus, karena ia memuluskan niatnya dengan segerombolan parewa kampung. Nango tau akal bulus Muis, sebab adiknya selalu mengirim surat dan mengabarkan berita-berita seputar kampung. Muis diam, ia berhenti memainkan celurit di tangannya. Pria itu semakin terlihat bringas, wajahnya merah, matanya seperti mata setan yang hendak membunuh.

Tiba-tiba anak Nango bersahut dari kejauhan, bahwa adik perempuannya menangis dan tak mau berhenti. Muis masih diam menatap Nango. Nango menyatakan bahwa ia akan menentang Muis sampai mati bila ia tetap pada perangainya. Nango tidak sanggup orang-orang terus mengolok-oloknya di kedai. Masyarakat berpendapat, seorang Nango hanya mampu menyelesaikan masalah orang lain saja, tapi tidak bisa menyelesaikan masalah keluarganya. Nango tau betul ia menyinggung soal Muis yang rakus. Nango menyampaikan banyak akal bulus Muis yang sudah diketahui banyak orang, Nango juga mengabarkan bahwa dua anak perempuannya sering pula menjadi bulan-bulanan pemuda kampung sebelah. Itu sebabnya dua orang anak lelaki Muis tidak berkutik saat ia disuruh pulang oleh Nango. Ia tau betul selera anak lelaki Muis, tak lain hanya gadang sarawa sama dengan ayahnya. Anak lelaki Nango pernah berkelahi dengan beberapa pria di sungai, lantaran pemuda-pemuda tersebut mengintip dua anak perempuan Muis mandi.

Kedua anak lelaki Muis tau hal tersebut, tapi bagaimana lagi, perbuatan tersebut juga dilakukannya. Mau bagaimana, bila ia marah, semuanya akan terbongkar. Nango tak terbendung lagi menyampaikan banyak kejadian yang dilakukan Muis dan keluarganya. Ia juga menyesali, barangkali ini karma buatnya, tapi malah melalui Muis. Muis terdiam, ia menancapkan celurit miliknya ke sebuah batang pisang yang sudah roboh karena tebasannya. Ia malah mengajak Nango berkelahi dengan tangan kosong. Nango menolak ajakan bodoh itu.  “Bila kau tau dekatnya mulut dan hidung, pastilah tak kau marahi saat mereka bergantian untuk bernapas.” Nango meninggalkan Muis yang kelabakkan dengan batang-batang pisang. Ia melepaskan amarahnya kepada pohon-pohon. Menebas semaunya, kadang dengan tangan, kadang dengan kaki.
(Arif P. Putra)

Arif P. Putra
Saya seorang pengarang; menulis Puisi, Cerpen, dan Novel. Saya juga menulis tulisan Ilmiah sebagai alternatif lain mengasah kemampuan menulis saya. Ini merupakan ruang untuk membagikan tulisan-tulisan yang saya hasilkan, baik sudah dimuat media lain ataupun spontan.

Baca Lainnya

Post a Comment

Ikuti Sang Penyair Arif P. Putra