-->

Hikayat Bujang dan Juaro


Hikayat Bujang dan Juaro


Suatu malam, ketika bulan purnama tegak tali. Bujang menceritakan banyak kisah kepadaku. Ia membahas banyak hal tentang adiknya Juaro. Katanya, Juaro si pengabung ayam itu sering mencuri uang dari kotak kedai tempat ibunya biasa menyimpan uang hasil menjual lapek.  Bujang begitu emosional mengabarkan kekesalannya kepadaku. Sampai ia lupa bahwa Juaro adalah adiknya semata wayang yang harus ia lindungi. Meski harus banyak hal yang ia tahan dari tingkah laku adiknya itu.
Hampir setiap hari mereka salah paham karena hal-hal kecil yang dilakukan Juaro. Tentu saja Bujang tidak menerima semua kebiasaan Juaro yang selalu merugikan keluarga. Mulai dari sabung ayam sampai bermain wanita. Kebiasaan itulah yang selalu ditentang oleh Bujang. Bujang merupakan anak sulung dari dua bersaudara, lantaran Juaro anak bungsu, anak yang limpah kasih sayang sewaktu kecil, barangkali hal itu yang membuat kebiasaannya menjamur sampai dewasa, tidak berubah juga sampai maut memisahkan ia dengan ayahnya.
Juaro memiliki tempat sabung ayam yang biasa dikenal dengan nama Gelanggang Juaro. Tempat sabung ayam itu terletak di sebuah bukit yang bernama Paco-paco. Di sana Juaro menggelar sabung ayam hampir setiap hari, tidak pernah habis-habisnya tamu penyabungnya datang untuk bertamu. Bukit yang tidak terlalu jauh dari perkampungan itu seakan menebar suara-suara riuh sepanjang malam. Mulai dari pemabuk yang kehilangan celana, sampai aroma muntah sewiliran.
Bujang begitu ingin merubah adiknya menjadi anak yang berbakti dan melakukan pekerjaan sewajarnya; bertani, membantu orang lain, dan mungkin melaut. Namun apalah daya Bujang yang tubuhnya kalah besar dari adiknya itu. Ia selalu enggan jika Juaro sudah membentak dan membahas kondisi fisik. Memang, Juaro bukanlah lawan yang padan untuk Bujang, jika sudah membicarakan adu fisik. Juaro sejak kecil sudah dibekali dengan bela diri. Sedangkan Bujang tidak pernah mampu mengikuti setiap pelajaran bela diri yang diajarkan langsung oleh ayahnya.

***
“Saya begitu kesal kepada Juaro, saat uang tabunganku dibawa pergi untuk berjudi.” Bujang mengabarkan kekesal itu kepadaku, tentu aku tidak akan bisa bicara apa-apa ketika Bujang menceritakan itu. Aku takut salah bicara, sebab Bujang begitu menggebu ingin melakukan sesuatu untuk membalas semua kekesalannya kepada adiknya, sampai Juaro benar berubah lakunya yang merugikan itu. ia ceritakan banyak keburukkan Juaro kepadaku. Tentu aku hanya mampu menjadi pendengar yang baik untuk Bujang. Disuatu sisi aku hanya belajar menghargai Bujang, meski mungkin ia kesal karena aku tidak meladeni cerita-cerita adiknya itu.
Akhirnya Bujang meninggalkanku setelah lama menceritakan banyak hal tentang adiknya. Ia sebutkan sebuah perjalanan ke bukit yang belum terjamah oleh warga setempat. Ia sebut nama bukit itu Sianok. ”Aku pernah bermimpi di sana ada sebuah tempat penyimpanan harta karun.” Sebutnya sambil berdiri dari tempat kami duduk. Kabarnya ada sebuah tambang emas di bagian lereng bukit yang memiliki ngalau yang sangat luas. Di mana setiap pagi aungan harimau terdengar jelas dari ngalau tersebut. Bujang mengabarkan cerita itu kepadaku sembari berjalan meninggalkanku. Biasanya, kalau seseorang ingin memasuki rimba tersebut, akan diberi isyarat; seperti aungan atau ranting yang patah. Begitulah ia menceritakan sekilas tentang mimpinya kepadaku.

Hari itu ia mimpi sebuah patung emas yang terletak di bukit Sianok. Memang, di sana merupakan markas besar para pejuang jaman dahulu. Semenjak indonesia dijajah, mereka membuat sebuah perkampungan yang jauh dari keramaian, jauh dari jalan-jalan yang bisa dilewati antek belanda. Sebuah bukit yang di kelilingi beberapa bukit pula. Dan mereka tinggal di sebuah goa. Seperti istana yang di kelilingi tembok-tembok baja yang tinggi. Jadi wajar, mereka pada masa itu memilih tinggal di bukit, ketimbang di desa. Kala itu memang sangat jauh sekali dari kata aman dan hidup tenang. Jika tidak hati-hati keluar kampung, bisa saja mereka ditangkap dan takkan pernah kembali pulang.
            Begitu Bujang mengabarkan segala tentang mimpi yang katanya hanya diceritakan kepadaku. Tentu aku harus menjaga kepercayaan itu, agar tidak ada warga lain yang mencoba mendatangi tempat tersebut. Apalagi Juaro adiknya. “saya tidak yakin kamu akan menemukan apa yang ada dimimpimu itu, Bujang.” Aku mencoba mengoyahkan tekatnya. Tapi memang benar, tekat lelaki itu sudah sangat pekat seperti bulan penuh yang tegak tali. Ia beranjak dan berjalan melewati semak-semak ilalang menuju pulang. Beberapa langkah berjalan, ia menoleh dan mengatakan “jangan sampai kamu ceritakan hal ini kepada Juaro adikku. Jika ia mengetahui, sudah jelas kamulah orang yang menceritakan.” Itu adalah percakapan terakhirku dengan Bujang.
Semenjak percakapan malam itu, kami tidak pernah lagi bertemu. Kuterima kabar dari orang-orang kampung bahwa lelaki itu memutuskan untuk pergi dari rumahnya, dan ingin membuktikan bahwa mimpi yang pernah ia ceritakan itu benar ada. Sebab sudah beberapa minggu terakhir ia ternyata menceritakan hal yang sama diceritakan kepadaku. Sudah tentu itu adalah hal yang tidak dapat diterima akal sehat orang banyak. Jika itu mitos maka orang-orang akan dapat menerimanya, tetapi Bujang seakan menceritakan sebuah kejadian yang benar-benar ada.
            Ia sampaikan juga cerita yang pernah diceritakan kepadaku kepada masyarakat. Mungkin aku bisa memahami hal itu, tapi tidak untuk orang lain. Oleh karena itu beberapa hari belakang ini ia selalu ditinggalkan oleh warga ketika sedang ngopi di kedai. Itu sudah menjadi alasan warga, bahwa apa yang diceritakan Bujang tidak masuk akal. Kentara hal itulah yang membuat Bujang sering marah sendiri kepada orang lain. Ia seperti merasakan keterasingan, sengaja dijauhi. Setelah malam itu, mungkin sekitar dua minggu, aku tidak lagi mendengar kabar darinya. Kemudian kudengar ia telah berangkat dari rumah menuju peraduan yang ia ceritakan.
            Aku harus menjaga rahasia itu rapat-rapat, agar Bujang tidak menyimpan rasa curiga dan ketidakpercayaan terhadapku. Memang, aku dan Juaro tidak pernah berselisih paham, walau kadang kami sering mendebatkan hal-hal yang memang sudah jadi kebiasaan hari-hari Juaro sang pengabung ayam itu. Aku juga pernah membeli ayam aduan kepada Juaro, itulah yang membuatku tidak menyangka Juaro sepicik itu karena Juaro termasuk orang yang baik kepada pembeli-pembeli ayamnya. Tidak jarang juga dia mengasih bonus untuk mereka yang sudah sering membeli ayam kepadanya, seperti memberi satu ekor anak ayam atau memberi sekantong padi untuk makanan ayam satu minggu.
Juaro seperti pemuda pada umumnya, aku melihat Juaro begitu terbuka untuk pemuda kampung, dia tidak pernah terlihat angkuh dan sombong kepada teman sebaya. Malahan aku sempat berpikir bahwa Bujang lah yang memiliki sifat seperti apa yang ia ceritakan sendiri kepadaku. Sebab Bujang tidak pernah hadir ketika musyawarah pemuda, acara-acara yang diadakan pemuda. Begitupun dengan berkumpul di kedai-kedai. Meski hanya duduk, tapi Juaro melakukan itu. Aku benar-benar berpikir keras untuk menyimpulkan dua saudara yang sedang perang dingin itu.
***
            Sudah tiga bulan saja sejak kepergian Bujang. Tiada kabar berita yang dapat didengar dari keberadaannya saat itu. Aku mulai bingung atas situasi yang seakan mendesak ingin menemuinya ke bukit Sianok yang entah di mana letaknya. Tapi apalah dayaku, aku memang tidak mengetahui di mana letak pasti bukit tersebut, karena Bujang hanya menceritakan sebuah mimpi, bukan tetantang sebuah bukit.
Akhirnya suatu hari Juaro mendatangiku dengan membawa ayam jagonya. “Yuang...!!” teriak Juaro sambil memperhatikan ayamku di dalam kurungan, aku melihatnya dari pintu belakang. Seperti biasa, lagak jalannya yang pongah itu tidak bisa dihilangkan.
“iya...!!” jawabku berteriak pula.
“ini ayam yang kamu beli dulukah?” tanya Juaro.
“kaukah itu Juaro?”
“iya, ini aku.”
“tunggu sebentar, ya, aku sedang membuatkan makanan untuk ayam.” Sebutku sambil terus bergeges menyelesaikan.
“santai saja, Yuang” balasnya tenang.
            Kemudian aku keluar dengan tangan yang masih basah. Sambil mengusapkan ke celana, aku bertanya ada tujuan apa Juaro datang ke rumah. Membawa ayam pula lagi, barangkali itu akan menjadi alasan untuk dapat bercerita denganku. Pikirku begitu. Dia mengajakku bercerita tentang Gelanggangnya yang mulai sepi, juga banyaknya ayam-ayam yang hilang. Baru-baru ini ayam jagonya yang sudah menang lima kali hilang pula. Juaro nampak murung sewaktu menceritakan itu. Aku dapat memahami kesedihannya, lantaran di sanalah tempat dia mencari uang untuk kehidupan sehari-hari karena ia sudah tidak tinggal di rumahnya ibunya lagi.
            Hampir seharian kami duduk bercerita di berada rumahku. Setelah mengadu ayam, Juaro mengajakku berpendapat tentang acara tahunan yang biasa dilakukan warga, yaitu pacu sampan. Kami membahas acara yang itu-itu saja setiap tahunnya, padahal masih banyak lagi acara tradisi yang bisa dibuat untuk perayaan tahunan itu. Juaro menyarankan membuat acara parang pisang atau kamba sajoli. Lalu aku sampaikan kepada Juaro bahwa itu adalah sebuah perayaan untuk orang yang melahirkan anak kembar sejoli saja, belum pernah dilaksanakan selain hari kelahiran.
            Juaro memaparkan mengapa ia beranggapan acara itu akan ramai sekali. Sebab dalam acara tersebut akan ada sesi lempar pisang rebus dan arakkan si muntu keliling kampung. Tentu akan membuat suasana kampung lebih riuh dan terasa sekali suasana kebersamaannya karena warga akan mempersiapkan pakaian dari daun pisang kering, kemudian memakaikannya kepada orang yang terpilih. Belum lagi merebus pisang untuk peluru sewaktu acara perang pisang. “pasti meriah sekali, Yuang” ujarnya sambil memasukan ayam ke dalam sangkar.
Tradisi ini dahulu menjadi hari di mana semua masyarakat suatu kampung berkumpul untuk merayakan kelahiran anak kembar sejoli. Dalam artian, suatu anugrah yang patut dirayakan. Tentu harus sesuai juga dengan aturan yang sudah dibuat para orang-orang terdahulu. Prosedur dari perayaan anak kembar sejoli ini adalah berkumpulnya masyarakat untuk ikut berkunjung atau biasa disebut babondong ke rumah induak bako lalu berjalan menuju rumah anak kembar yang lahir, induak bako ialah saudara perempuan dari bapak. Sebelum mendatangi rumah tersebut, orang yang datang akan membawa pisang yang sudah direbus dan begitu juga sebaliknya, orang menanti di rumah tempat anak kembar yang lahir juga sudah menanti dengan pisang rebus. Saat iring-iringan berlangsung menuju rumah tempat anak kembar lahir, ada beberapa orang yang ditunjuk untuk memakai baju yang terbuat dari daun pisang yang biasa disebut Si Muntu/baju kisiak. Sesampai di rumah tempat anak kembar lahir, orang-orang yang datang dari rumah induak bako tadi akan saling lempar pisang rebus atau yang biasa disebut masyarakat setempat parang pisang.
Adapun sebagian dari mereka menyambutnya dengan berpantun, dan tuan rumah akan membalasnya pula dengan pantun. Tapi pada acara tahunan di kampung, akan kita gelar dengan cara yang berbeda dengan biasannya. Begitu paparan Juaro dengan panjang lebar sambil membayangkan bagaimana acara tersebut akan menjadi kemeriahan orang-orang kampung. “Kita buat lomba sabung ayam juga sekalian, Yuang” candanya sembari menepuk pundakku. “hahaha...” sambungnya dengan tawa terbahak.
Setelah beberapa jam ia menceritakan ide yang cemerlang itu, kami diam sejenak. Lalu ia berdiri menuju sangkar ayam. Dan ia mengeluarkan ayamnya sambil pamit untuk pulang. Aku melihat saat itu wajahnya berubah seakan ada sesuatu yang belum ingin ia sampaikan. Aku bertanya-tanya apa sebenarnya maksud dan tujuan Juaro mendatangiku, padahal ia tahu aku tidak terlalu suka beramai-ramai dalam sebuah acara. Firasatku mengatakan itu adalah sebuah cara pendekatan untuk mengetahui suatu masalah. Mungkin saja itu masalah tentang kakaknya Bujang.
Tetapi sepanjang penuturan Juaro tadi, ide yang disampaikan sangat menarik sekali untuk diadakan di kampung. Barangkali dapat menambah pengetahuan anak-anak kampung akan tradisi lama yang ada atau menghilangkan kebosanan remaja kampung akan kebiasaan-kebiasaan kuno tetua. Aku begitu bingung dengan keadaan semacam itu. Ada sesuatu yang menyeretku untuk ikut masuk ke dalam rencana yang ingin dibuat Juaro, walau aku tidak tahu betul apa sebenarnya yang sedang ia rencanakan.
***
            Suatu malam ketika bulan purnama mulai memudar. Gumpalan awan-awan bertenang menuju pulang. Ia memecah putihnya di tepian bulan, mengantarkan terang kepada isi kampung, membuktikan bulan penuh segera berakhir, begitu juga dengan pelaut-pelaut yang bersiap untuk ke laut. Sebab sudah beberapa minggu sejak bulan penuh, pelaut terpaksa tidak melaut, karena sangat sulit untuk menangkap ikan di tengah laut, sebab mereka menggunakan lampu sewaktu menebar jaring. Jika bulan purnama datang, tentu saja lautan sudah terang, dan jelas sekali ikan-ikan lebih memilih berlindung ketimbang berkeliaran mencari makanan.
            Kuingat kembali cerita terakhir bersama Bujang tentang pencarian mimpinya. Begitu banyak teka-teki yang belum mampu aku pecahkan untuk menyimpulkan apa sebenarnya makna dari mimpi yang dirasakan Bujang. Namun disisi lain, aku memikirkan ada sebuah pembalasan untuk seseorang yang sangat ia benci. Barangkali kepada adiknya Juaro. Aku menemui banyak kata-kata perencanaan keluar dari mulut Bujang malam itu. Mulai dari menyaingi Gelanggang milik Juaro sampai menyainginya dalam bertarung. Selebihnya hanya bualan yang keluar dari seseorang yang sedang sakit hati.
            Aku juga tidak menyangka Bujang bisa menjadi senekat itu, sampai-sampai menghilang dari kampung. Dari sana aku hanya menyimpulkan sebuah pembalasan atas sesuatu yang ia rasa tidak adil. Aku dapat menangkap kekecewaan itu terjadi dibatin Bujang. Setiap hari ia merasakan keterasingan, tidak di lingkungan keluarga saja, tapi di lingkungan masyarakat juga begitu. Setiap duduk di kedai, ia seolah-olah dianggap hanya setumpuk lapek yang sudah empat hari tidak laku. Mungkin saja itu yang membuat Bujang merasakan suatu emosi yang membuatnya harus mencari sebuah hal yang dapat merubah pandangan orang terhadapnya.
____
            Kemudian pagi itu kudapati kabar dari kedai yang biasa tempat pemuda-pemuda kampung duduk, bahwa Bujang sudah pulang. Seseorang melihat Bujang pulang mandi dari sungai menenteng seekor kera yang sangat besar. Begitu kabar yang mulai beredar dan mungkin sudah ditambah dengan cerita-cerita lain yang tentu membuat kisah Bujang menjadi menarik. Aku palingkan langkah ke Gelanggang Juaro. Dengan alibi membawa ayam ke sana untuk diadu agar tiada curiga Juaro. Daripada mendapati cerita-cerita orang kampung yang belum tentu kebenarannya dan akan membuat kesimpulan pikiranku berujung benci.
            Kutemui Juaro sedang duduk berdua dengan kakaknya di pintu masuk Gelanggang miliknya. Sontak membuat kejut jantungku, seperti sebuah kemustahilan. Mereka tampak serius membahas topik pembicaraan yang seakan segera dieksekusi. Aku berdiri memandangi mereka berdua. Aku kurung ayam yang kubawa ke dalam sangkar milik Juaro. Aku harus pura-pura akrab terhadap mereka berdua, agar tidak terasa asing di tengah suasana yang tampak tegang itu.
“wah... sudah pulang kamu, Jang. Lama tak berjumpa, apakah deritamu sudah berubah?” itu sebenarnya sebuah pertanyaan yang menjebak. Bisa saja Bujang sedang emosian atau tidak Juaro membantingku ke dalam Gelanggang.
“baik, Yuang. Bagaimana kabarmu yang sibuk dengan awang-awang itu?” mereka berdua tertawa sambil menyuruhku duduk.
“jadi kalian sedang membicarakan acara kampung?” tanyaku supaya bisa masuk dengan tenang kepada suasana mereka berdua.

            Mereka kelihatan akrab setelah aku ikut mendengarkan cerita dari Bujang yang baru pulang dari perantauan yang tak bertuah itu. Aku terkesima mendengar cerita dari Bujang. Ia kabarkan tentang mimpi-mimpi yang ia temui; harta karun, goa-goa, dan orang-orang aneh sepanjang jalan menuju Sianok, di mana setiap kepercayaan juga kejujuran diuji. Aku dengar cerita itu sangat tidak masuk akal sekali. Apalagi Bujang sampai menceritakannya di tengah-tengah masyarakat kampung. Sudah jelas sekali Bujang akan menerima segala cemoohan. Tapi untung saja ia menemui adiknya terlebih dahulu. Bujang yang kutemui hari itu sangat berbeda sekali dengan Bujang yang tahun lalu aku temui.
            Kata-katanya begitu santun nan sarat wibawa. Tidak ada kalimat-kalimat kasar dan emosi yang dikeluarkan. Begitu juga dengan Juaro yang tampak menurut kepada kakaknya itu. Aku terus berpikir keras, apa yang sudah membuat dua saudara ini begitu akur. Juaro yang dahulu ia ceritakan kepadaku begitu sopan, dan menurut pula ketika disuruh. Pun Bujang yang penuh emosi kebiasaannya saat berbincang juga nampak lembut perkataannya. Tidak ada sekalipun menyudutkan seseorang ataupun menyalahkan Juaro yang pernah mencuri uang tabungannya. Diceritakan juga hal-hal mistik tentang orang-orang bunian penghuni bukit Sianok. Cindaku juga orang-orang rantai yang sehiliran ketika hari minggu.
            Dia ceritakan tentang pasar orang-orang di sana, semuanya seperti pasar pada umumnya. Sebagaimana di pasar orang-orang menjual sayuran, lauk-pauk, dan banyak macam peralatan rumah tangga lainnya. Namun semua orang di sana memakai baju yang ditambal kain kuning di bagian ketiaknya. “kalian tahu mengapa mereka memakai pakaian seperti itu?” sebut Bujang dengan tenang. “karena mereka di sana tidak ingin melihatkan kekayaan. Tidak ada derajat, mereka semua sama rata.” Sambungnya melempar pandangan ke arah Juaro.
            Pertama kali Bujang sampai di tanjung bukit Sianok. Tepian bukit yang di penuhi padi-padi menguning itu kelihatan seperti tepian bukit di tempat-tempat lain; orang-orang sawah, kurai anak menghalau burung, nun jauh juga terlihat lambaian asoy-asoy gantung di utas temali soban. Kala itu memang terasa sekali suasana perkampungan yang masih asri, jauh dari kata sabotase kehidupan jajahan kekayaan. Begitu diceritakan Bujang kepada kami yang masih bingung tentang kebenaran cerita Bujang. Bisa saja ia mengarang cerita tersebut agar ia mendapatkan simpati dari kami. Supaya ia tidak merasakan keterasingan lagi.
            Juaro merasa terpukul oleh cerita yang disampaikan Bujang kepadanya. Sindiran-sindiran kecil yang membuat Juaro tertunduk malu. Bahwa sejatinya semua orang memiliki kekayaan masing-masing, tapi tidak ada gunanya untuk berbangga ataupun menyombongkan kekuataan harta yang dimiliki. Begitulah sambut Bujang saat Juaro baru saja menyodorkannya secawan kopi. Aku tersenyum kecil melihat keluguan Juaro saat itu. kentara membuat hatiku tergerak ingin ikut dalam rencana Juaro yang pernah diceritakan, yaitu  mengadakan acara parang pisang, dan ternyata Bujang pun sudah mengiyakan ide Juaro tersebut. Dia ingin membantu Juaro untuk merealisasikan ide itu, tapi dengan syarat Juaro harus menutup Gelanggang miliknya.
            Sudah tengah malam pula rupanya aku duduk bersama dua saudara itu. Bujang masih terus menceritakan banyak hal tentang perjalanannya. Sedangkan Juaro menanyai banyak hal tentang perubahan Bujang dari hari ke hari selama di sana. Tentu saja Bujang menjawab semua pertanyaan itu dengan penjabaran yang sangat jelas, sampai Juaro tidak bisa berkata apa-apa selain takjub. “segala perubahan harus terjadi dari hati, sebelum terlihat pada lisan kita.” Sebut Bujang pada pertanyaan Juaro terakhir malam itu.
***
Akhirnya kami bertiga mengajukan rencana tersebut kepada tetua kampung. Pemuda-pemuda mulai berkumpul, hanya pemuda saja. Sebab sudah jadi aturan adat kampung, bahwa dalam musyawarah perayaan kampung. Semua laki-laki harus berkumpul. Perempuan hanya di dapur menyediakan makanan untuk para lelaki. Hari itu Juaro memaparkan kembali rencananya seperti pertama kali ia menceritakan kepadaku. Semua orang menyetujui rencana yang dibuat Juaro. Mereka juga nampak memberi respon baik kepada Bujang saat itu. Entah karena takut kepada Juaro yang sudah akrab dengan Bujang, entah memang warga sudah mengerti bagaimana perubahan Bujang.
Mungkin sudah tiga jam musyawarah berlangsung, dan Bujang belum dapat juga tawaran untuk mengajukan pendapatnya. Sedangkan pemuda-pemuda lain sudah mengeluarkan segala isi otaknya, termasuk aku. Aku duduk bersebelahan dengan Bujang, jelas sekali Bujang tetap tenang, ia teguk airnya perlahan, kemudian aku merasa ada sesuatu yang melintas di telingaku. Semua orang merasakan hal yang sama denganku, secara serentak semua orang menutup telingannya sambil menghembuskan napas ke celah lubang tinjunya.
Bujang berdiri, ia ucapkan pamit kepada orang-orang yang ada di tempat musyawarah berlangsung. Ia sampaikan bahwa dia tidak ada maksud apa-apa untuk meninggalkan musyawarah yang sedang berlangsung itu. Meski Juaro telah menahannya, tapi dia tetap kekeh ingin beranjak pergi. Aku tidak tahu alasan apa yang sudah dikantongi Bujang, sehingga ia begitu ingin pergi dari musyawarah itu. Dengan nada bisik aku bertanya kepadanya “hendak ke mana engkau?” dia diam dan melangkah meninggalkan kami.
Semua orang tidak mengambil serius kejadian itu. Tetua tetap melanjutkan musyawarah dan menentukan hari baik untuk acara. Juaro terus mengatur bagaimana cara-cara pelaksanaan acara agar tidak membosankan. Dia buat ide-ide cemerlang. Supaya semua kalangan bisa mengikuti acara itu kelak, sampai turun-temurun. Juaro sangat senang setelah idenya dapat diterima dengan baik oleh warga. Sudah sejak lama ide itu direncanakan Juaro, tetapi karena sifatnya yang buruk, ia merasa belum pantas untuk membuat sesuatu hal yang bari di tengah masyarakat.
____

Aku dan Juaro berjalan menuju Gelanggang. Sudah beberapa hari kami selalu duduk bersama di sana, mengatur cara-cara untuk persiapan acara tahunan kampung agar masyarakat tidak berpikir bahwa kami kurang persiapan, hanya ide tanpa perhitungan saja. Di sana Bujang juga mengajarkan kami untuk mendekati masyarakat secara batin, supaya tidak ada pisau-pisau yang akan menyayat nantinya dari belakang.
Kami berpikir setelah keluar dari musyawarah Bujang langsung ke Gelanggang Juaro. Tetapi sesampai di Gelanggang, kami tidak menemui Bujang. Juaro bingung ke mana Bujang pergi. Kami berpikir Bujang langsung pulang ke rumah, jadi kami tidak terlalu memikirkan, barangkali Bujang sedang butuh waktu sendiri.
____
            Sudah seharian kami tidak bertemu dengan Bujang. Hatiku bertanya-tanya ke mana perginya Bujang. Juaro pun begitu, kami terus menunggu kedatangan Bujang di Gelanggang, biar melanjutkan persiapan nyata untuk acara di kampung. padahal sehari sebelum musyawarah dengan tetua, Bujang berjanji akan mendampingi kami dalam mempersiapkan segala keperluan dalam acara tahunan itu.
            Tengah malam kami tetap menunggu Bujang, mungkin saja dia ada urusan atau membantu ibu membuat lapek di rumah. Biasanya ibu membuat lapek sampai tengah malam, begitu pikir Juaro. Akupun menyangka begitu, karena sejak kepulangannya, Bujang selalu beralasan untuk datang ke Gelanggang setelah selesai membantu ibunya bekerja sampai siang. Setelah selesai membantu ibunya, ia akan segera menyusul kami ke Gelanggang. Tapi sudah seharian dia tidak muncul-muncul juga ke Gelanggang.
            Akhirnya Juaro berinisiatif untuk melihat Bujang ke rumah. Mungkin saja Juaro masih membantu ibunya. Juaro sudah tidak sabar menceritakan banyak hal kepada Bujang. Sebab setelah Bujang lari dari musyawarah, tetua menyampaikan banyak petuah penting, agar acara kampung nantinya berjalan lancar. Mulai dari pawang hujan sampai pawang mahkluk gaib disuruh tetua untuk dapat membantu Juaro dan kawan-kawan.
            Tentu saja itu sangat membantu. Andaikan sewaktu acara berlangsung hujan deras turun, atau banyaknya orang-orang kesurupan. Itu adalah cara tetua mengantisipasi agar acara berjalan dengan lancar. Juaro harus memberitahu hal itu kepada Bujang, supaya Bujang tidak terheran-heran nantinya, kenapa banyak sesajian atau wewangian dari bunga-bunga kembang tujuh rupa.
            Sesampai di rumah, Juaro mengetuk pintu. Tidak lama kemudian ibu Juaro keluar dan bertanya siapa yang tengah malam mengetuk pintu. “siapakah itu?” tanya perempuan tua itu. “ini saya, Bu, Juaro.” Lalu Juaro masuk ke dalam rumah dan mencari Bujang. Tapi nihil, Juaro tidak menemukannya.
“mencari apa kamu, Nak?”
“mana Bujang, Bu?”
“Bujang? Bujang? Bujang?” Ibunya bertanya berulang kali, sampai Jurao terdiam mendengarkan pertanyaan itu.
“kapan Bujang pulang, Nak? Apakah kamu pernah bertemu dengannya?” perempuan itu terus bertanya sambil mengusap-usap pundak Juaro.
            Ibu Juaro menangis, lirih terdengar isak tangis perempuan itu. Ia sampaikan kerinduan yang teramat dalam kepada Bujang yang sejak pergi tidak pernah pulang lagi. Tidak ada kabar juga dari Bujang yang entah di mana keberadaannya. Ibunya juga tidak pernah tahu apa tujuan kepergiannya, sampai selama itu tidak memberi kabar. Lalu angin-angin mendesir, melewati permukaan telinga. Perlahan menerobos ke celah lubang telinga. Memasuki dasar telinga dan mengiang. Semua terasa diam, begitu juga dengan tangis ibu Juaro yang terdengar sendu.
            Begitulah kemalangan-kemalangan dikabarkan oleh ribuan kisah-kisah dari tanah desa. Orang-orang yang hilang tanpa jejak sejak beranjak dari rumah, pun penantian-penantian yang tak kunjung usai tetap saja diharapkan. Begitulah kerinduan-kerinduan yang berujung sesal. Doa kepulangan sampai permohonan berupaya mewujudkan segalanya. Tapi yang pergi tidak jua kembali. Sudah berpuluh tahun sampai saat sekarang, Bujang tak juga pulang-pulang. Sampai jasad ibunya bersatu dengan Juaro di tanah pemakaman. Nun jauh berpuluh tahun nanti, cerita ini akan tetap ada; klasik dan patut dikabakan.


(cerpen ini ditulis tahun 2015) 
Arif P. Putra
Saya seorang pengarang; menulis Puisi, Cerpen, dan Novel. Saya juga menulis tulisan Ilmiah sebagai alternatif lain mengasah kemampuan menulis saya. Ini merupakan ruang untuk membagikan tulisan-tulisan yang saya hasilkan, baik sudah dimuat media lain ataupun spontan.

Baca Lainnya

Post a Comment

Ikuti Sang Penyair Arif P. Putra