-->

Cerpen: Hikayat Kuda si Pandai Besi



Dia bujuk kembali kuda tua itu, sambil memelas mengusap kuduknya. Sudah seminggu ini ia bermalas-malasan, tiap diberi rumput tidak pernah habis dimakan. Biasanya sekarung setinggi lutut selalu ludes dimakan olehnya. Ujang tak tanggung risau melihat kondisi kuda bendi itu, ia hanya bisa garuk-garuk kepala melihat perangainya. Hari pasar hanya jadi tontonan saja, tiap dibawa orang, tiap itu pula ia tak mau jalan sampai ke tujuan. Kalau yang sudah-sudah, kuda Ujang bukan kepalang semangatnya, dari pagi sampai menjelang magrib ia kuat membawa beban kusirnya.
 Kuda itu ia beli dari seorang pandai besi saat kebutuhan mengalahkan hobinya. Kala itu dibeli Ujang dengan harga murah, perjalanan baik pula kiranya bagi Ujang. Bagai gayung bersambut saat pandai besi menawarkan kudanya pada Ujang. Kebetulan sekali Ujang baru selesai panen jagung yang hasilnya lumayan berlaba. Digoyang harganya agak sedikit oleh Ujang, pandai besi tak bisa berbuat banyak, langsung kuda itu jadi milik Ujang. Tinggallah kuda betina itu di rumah Ujang.
 Ujang tau betul, kuda betina itu dipelihara oleh sang pandai besi sejak kecil. Sebab Ujang sudah pernah menawar kuda tersebut saat masih muda, pandai besi mematok harga sangat tinggi. Ya, namanya juga kuda kesayangan, tentu tidak ada patokan harga sesuai pasaran. Tapi memang kebutuhan mengalahkan apapun, beruntung pula bagi Ujang. Waktu itu Ujang pernah menitip pesan kepada pandai besi, kalau-kalau nanti butuh uang dan tidak tau mau mengadu kepada siapa, Ujang siap membantunya. Begitulah bunyi pesan Ujang kepadanya seusai menerima harga mahal dari pandai besi. Ia tersenyum, membalas pesan Ujang dengan tenang. Padnai besi menjawab agak seseumbar, untuk waktu dekat akan saya pertahankan, biarlah mati di kandang ketimbang saya jual. Tapi siapa yang tau kehendak Tuhan, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.
 Setelah timbangterima harga kuda betina itu, pandai besi mengusap kuduk kuda betinanya sambil berkata—setengah terdengar.
“Jaga diri baik-baik, ya. Maaf tak bisa merawatmu lagi. Sulung butuh uang, dan kau satu-satunya penolong saat ini.”
Ujang mendengar percakapan sepi itu, kedua mata mereka berbinar, antara pemilik dan ternak. Ujang sebenarnya bisa saja memberi pinjaman uang, tapi bagaimana lagi, pandai besi pantang berutang.
 Malam pertama, kuda di kandang milik Ujang tak dapat diam, kuda itu merengeng sepanjang malam. Tetangga Ujang marah, kuda itu membuat tidur orang tak nyenyak. Bini Ujang pun begitu, selalu mengeluh mendengar rengeng kuda betina miliknya. Tak jarang Ujang keluar rumah untuk menyiram kuda tersebut dengan air. Kata pandai besi kalau ia merengeng tengah malam, beri dia rumput atau siram dengan air. Itu biasa terjadi kepada anjing-anjing pemburu, tapi karena pandai besi memberi pesan itu, diturutkan saja oleh Ujang. Tapi tetap nihil hasilnya.
 Setelah beberapa minggu, kuda betina itu tak berubah juga perangainya. Barulah pandai besi datang ke kandang Ujang, mencoba menenangkan kuda kesayangannya itu. Ujang memantau dari jauh, memerhatikan apa-apa saja yang dilakukan pandai besi pada kudanya. Ujang melihat mulut pandai besi komat-kamit dari kejauhan, Ujang curiga jangan-jangan kuda ini sengaja dibuat tidak betah agar dikembalikan lagi. Tak lama kemudian pandai besi menghampiri Ujang.
“Bila nanti malam ia merengeng lagi, coba bakar beberapa kulit kelapa di samping kandangnya.” Sebut pandai besi sambil menurunkan kaki celananya.
“Wah, beda lagi caranya, ya?” tanya Ujang agak sinis.
“Ya, seharusnya kan memang demikian.”
“Supaya apa?”
“Ya, supaya tidak digigit nyamuk dan hewan buas tidak mendekatinya.” Jawab pandai besi.
 Kemudian malam-malam selanjutnya Ujang membakar kulit kelapa kering di dekat kandang kuda miliknya. Bulan-bulan berlanjut dan kuda sudah menurut pula apa kata Ujang, walau tak sepatuh dengan pandai besi, tapi kuda itu mulai mau memikul beban bendi. Diajarnya oleh Ujang bertemu orang ramai, belajar jinak dengan orang sekitar. Kuda betina itu tidak rewel, walau Ujang harus mengulang perkataannya berkali-kali. Wajar saja, kuda betina itu masih mencoba mengerti suara tuan barunya. Kuda itu diajar oleh Ujang membawa bendi, membawa penumpang, membawa anak-anak berkeliling.
 Sudah lama pula kuda betina itu bersama Ujang, hampir tiga tahun sang pemilik pertama tak tampak batang hidungnya. Kadang Ujang bertanya pada kudanya, mempertanyakan sebuah lelucon. “Mana tuanmu, sudah lama pula tak nampak batang hidungnya?” jelas pertanyaan Ujang itu kalimat bercanda sambil menunggu penumpang. “Biasanya dia mencariku kalau ada kesulitan, aku dengar dia akan pindah.”
 Percakapan itu dibuat Ujang seolah-olah pandai besi telah berbuat sesuatu yang buruk. Ujang cukup tau perangai pandai besi kalau bermasalah. Kalau tidak menjinjing parang, pastilah menjinjing benda yang akan dijualnya. Tentu sebelum kuda betina itu sampai ke tangan Ujang, peliharaan lainnya sudah lebih dulu masuk daftar hak milik Ujang; ayam, sapi, kerbau, burung dan benda peninggalan milik keluarga pandai besi. Ujang pandai betul membuat situasinya mendesak, dilema yang tak bisa ditolak oleh seseorang. Binatang itu tak tau maksud perkataan Ujang membuat lelucon tersebut, dibujuknya selalu dengan rumput hijau, sesekali sagu cincang. Kuda betina itu memalingkan wajahnya dari Ujang, sambil tersenyum Ujang membujuknya seperti bocah kecil tak dapat pinta.
 Seperti Tuhan merencanakan sesuatu, saat matahari tegak tali, bendi yang ditunggangi Ujang mendapat penumpang ke arah rumah pandai besi pula. Kuda itu gelisah, sesekali meronta. Tak dapat ia tahan tahinya berceceran di tepi jalan yang membuat Ujang harus menepi. Di sana ia lepaskan bogem mentah ke arah pipi Ujang, tapak keras itu mendarat senyap ke di wajah Ujang, mengeluarkan darah begitu banyak. Ujang tersungkur, keluar carut yang paling hulu dari mulut Ujang. “Kuda binatang, binatang empat kaki tak tau balas budi!” umpat Ujang tak tanggung keras. “Kalau binatang dibeli bukan dengan cara suka sama suka, ya, begitulah perangainya, Jang.” Sebut seorang penumpang lelaki sebaya dengannya.
 Semakin tak tanggung marah Ujang, ia banting tali tambang ke punggung kuda betina itu. Dijawab dengan lenguh yang keras, seperti toa masjid dipegang bocah kecil, lenguhnya tak berkejelasan. Sepanjang jalan Ujang melampiaskan amarahnya, tiap melangkah tiap itu pula lecut hinggap di punggung kuda.
***
 Itulah pangkal kemalasan kuda betina milik Ujang. Setelah kejadian tersebut, hampir tiga bulan Ujang tak menambang. Terbesit pula dalam benaknya ingin mengembalikan kuda itu kembali, tapi apa mau dikata, pandai besi sudah terlanjur pindah. Orang-orang tidak ada yang mau mengambil kuda betina itu, walaupun Ujang menawarkannya bukan atasnama jual beli, melainkan pelihara bagi hasil. Adapun yang disuruh bawa saja, tidak ada yang mau barangsatupun. Entah apa yang salah dengan kuda betina miliknya, atau jangan-jangan Ujang yang telah berbeda. Ujang menjadi manusia paling baik di kampung, hewan peliharaannya sering ditawarkan pada orang-orang, tapi tak ada satupun yang mau membawanya pulang.
 Dicoba kembali membawa kuda betina itu menambang, menunggui penumpang-penumpang sesat untuk memakai jasanya. Tapi naas, kuda betina itu terlanjur cacat. Tubuhnya tak terawat, lalat begitu betah di bagian nanah tubuhnya. Bekas lecut Ujang tak kunjung hilang, melainkan semakin parah. Tiap dibawa berjalan, tiap itu pula diarahkan ke rumah pandai besi. Kuda itu seperti seekor anjing betina kehilangan anak di kandang, arah jalannya ke rumah pandai besi saja. Sesekali Ujang memelas, mengatakan bahwa pandai besi telah pergi, di rumah itu sudah tidak ada lagi pandai besi. Ia berangkat, badannya makin merasai kalau tetap di kampung. banyak yang belum lansai antara pandai besi dan para parewa. Kuda cacat, kusir suka bermenung pula. Tinggallah Ujang sebatang badan, perangai lama baru hilang, tapi orang terlanjur mengutuk badan.

====================================
Nama Arif P. Putra, berasal dari Surantih, Kab. Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Bergabung bersama Komunitas Menulis “Daun Ranting”. Buku tunggalnya yang telah terbit “Suara Limbubu” ( JBS, Yogyakarta 2018) dan sebuah novel “Binga” (Purata publishing, 2019). Pernah tergabung dalam beberapa Antologi dan karyanya dimuat beberapa media cetak dan daring.

Ctt: Cerpen ini sudah dimuat Koran Haluan Edisi 23 Feb 2020 rubrik Budaya. 

Arif P. Putra
Saya seorang pengarang; menulis Puisi, Cerpen, dan Novel. Saya juga menulis tulisan Ilmiah sebagai alternatif lain mengasah kemampuan menulis saya. Ini merupakan ruang untuk membagikan tulisan-tulisan yang saya hasilkan, baik sudah dimuat media lain ataupun spontan.

Baca Lainnya

Post a Comment

Ikuti Sang Penyair Arif P. Putra