Orang-orang meninggalkan apa-apa yang sebenarnya tidak sanggup ia
tinggalkan. Rumah-rumah menyulam mendung, menanak air dari pengapian yang
setengah hidup. Aku tuliskan catatan singkat ini pada siapa saja yang kelak saling
meninggalkan, bahwa semua yang kau mulai bersama nantinya juga akan saling
melepaskan. Jangan risau, menyoal catatan singkat ini tidak semuanya patut kau masukan
ke hati. Barangkali kau sempat mengalaminya atau hanya merasakan
setengah-setengah.
Ini bagian awal dari
cerita. Sebenarnya tidak ada niat untuk membuat catatan singkat ini, aku memang
tidak pandai menuliskan apa-apa yang sempat aku rasakan. Kau pasti tidak
percaya menyoal semua yang kutuliskan ini. Namun, jauh dalam lubuk hati,
tulisan ini serius aku tulis. Tentu dalam keadaan sadar dan waras. Suatu ketika
aku pernah mendapati seekor anjing tengah berusaha keluar dari sebuah
gorong-gorong depan masjid. Setelah jumatan usai, anjing itu terus merengek.
Tubuhnya yang kuyup oleh comberan tidak berhasil meraih bagian sudut
gorong-gorong. Sebelum khatib menutup ceramahnya tadi, suara anjing itu masih
terdengar hilangtimbul. Aku benar tidak percaya, anjing itu bertahan sampai
jumatan selesai.
Kuhampiri anjing yang
kepalanya hampir tenggelam itu. Matanya menyimpan linang yang tumpah, suaranya
semakin sayup terdengar walau aku telah berada tepat di depannya. Orang-orang
mulai meninggalkan belantara masjid, yang singgah hanya berkata kasihan sekali. Tapi siapa yang
berkeinginan mengangkat anjing itu? Tentu bukan aku.
Aku sempat bercakap dengan
anjing malang itu, sampai keinginan untuk mengangkatnya dari gorong-gorong
belum juga timbul. Bukan berarti aku jahat atau tidak mau membantunya, tapi ya
begitulah keadaannya. Aku coba memasukan kaki ke dalam gorong-gorong, tapi
nihil. Anjing berusaha mengigitnya. Aku berusaha meminta batuan pada
orang-orang yang bergantian pergi keluar masjid, hanya menghasilkan jijik yang
bukan main. Tentu saja begitu, karena sebagian dari jamaah masjid adalah
karyawan kantor. Bila harus mengangkat seekor anjing dari gorong-gorong
pastilah tidak mau. Meski begitu, aku tidak berniat meninggalkan sang anjing
sendiri. Melewati masa-masa sulitnya di dalam gorong-gorong.
Terus kuusahakan
menggapainya dengan kaki. Sesekali kutawarkan sepotong roti bekas yang kutemui
di tong sampah. Jangan berpikir aku tidak mau membelikan sepotong roti untuk
seekor anjing, tapi ia selalu menolak. Daripada kotor oleh percikan air
gorong-gorong, lebih baik aku memakannya. Lagian mana pula si anjing tau
kesulitanku untuk makanan. Berjam-jam kutemani si anjing melewati masa-masa
sulitnya. Berkali-kali pula ia seperti kehabisan nafas dan lenyap di tengah
derasnya sampah. Aku tau betapa sulitnya bertahan di bawah sana, dengan waktu
yang sangat lama si anjing pasti berenang layaknya kodok. Beruntung ia masih
punya kedua kakinya, aku tidak tau anjing mempunyai tangan atau tidak. Jika
keempatnya adalah kaki, beruntunglah dia, berarti tidak pernah mendapat makian
sebagai panjang tangan.
Aku jadi ingat sebuah cerita,
tentang seorang pelacur yang menyelamatkan anjing dan masuk surga. Aku
pikir-pikir itu hanya sebuah cerita atau kiasan semata, orang-orang menceritkan
kisah tersebut secara kilse. Sebagian orang juga menjadikan itu bahan untuk
melakukan perbuatan serupa; menjadi pelacur, menjadi jahat, menjadi munafik,
menjadi penghasut. Namun tiba-tiba menjadi baik seketika dan menjadikan cerita
seorang pelacur masuk surga kemana-mana. Siapa pula yang tau pelacur mana yang
telah masuk surga itu.
Kuingat seorang bapak yang
biasa pergi berburu setiap hari minggu. Di rumah ia mememlihara empat ekor
anjing pemburu. Aku hapal betul kegiatan untuk anjing-anjing pemburunya. Senin,
berenang ke sungai. Selasa, dijemur sambil menggantung anjing dengan dua kaki
di tanah, dua lagi di atas pagar. Rabu, jalan-jalan sore keliling kampung.
Kamis, diberi vitamin stamina. Jumat, vitamin lagi. Sabtu, istirahat dan dibawa
jalan-jalan. Minggu, pergi ke gelanggang perburuan celeng. Aku sampai hapal
jam-jam bapak merawat anjing-anjingnya. Pernah suatu kali ia menawarkanku untuk
memelihara seekor anjing, bila aku mau ikut berburu ia akan mengajaknya nanti.
Ia janjikan pula aku tumpangan dan makan siang selama perburuan.
Aku sebut itu kepada ayah
setiba di rumah. Katanya, “jangan mau ikut, buat apa kamu jadi anak joki
pemburu.” Ayah begitu marah mendengar keinginanku untuk ikut berburu. Anak joki
adalah seorang anak yang kerjanya memegang anjing ketika berburu, bila celeng
mulai diburu, barulah si pemilik melepaskan anjing-anjing. Tidak sampai disana,
setelah anjing dilepas, anak joki langsung menyusul si anjing ke dalam rimba.
Banyak kemungkinan apabila tidak disusul langsung, bisa saja anjing berkelahi
dengan anjing lain atau dibantai oleh celeng-celeng yang terluka.
Aku sebut saja nama bapak
itu pada catatan ini. Beliau adalah Genjay, lelaki paruhbaya yang menghabiskan
hari minggunya bersama anjing dan celeng sejak umur sepuluh tahun. Siapa yang
tak kenal beliau di kampung. Orang-orang memanggilnya dengan sebutan Buya.
Selain berburu, beliau juga salah satu perangkat masjid yang menjabat sebagai imam.
Bila sedang mengimami jamaah, suaranya bukan main merdunya. Tapi siapa pula
yang tau kegiatan beliau di luar masjid.
Di kampungku, pemburu
tidak asing lagi. Anjing-anjing sejak lama hidup dan mati di kampungku.
Anak-anak anjing berkeliaran di rumah-rumah, bangkai-bangkainya hanyut dan
tersangkut dibatang pemandian. Kampung yang jauh dari kota itu memang butuh
anjing, selain untuk menakuti maling, dia juga bisa menghalau hama-hama perusak
kebun warga. Itu sebabnya siapa pula yang berani memarahi seseorang untuk
memelihara anjing. Rumahku adalah salahsatu isinya yang menolak memelihara
anjing, bukan tanpa alasan. Tapi pernah suatu waktu ibu sepulang dari sungai,
kemudian seekor anjing mengejar dan menggigitnya, sampai ibu dikira rabies
karena digigit anjing gila. Padahal itu adalah anjing pemburu milik seseorang.
***
“aku wudhu dlu, njing. Eh, apa berdosa ngomong sama anjing, ya?”
Sudah empat jam aku menemani masa-masa sulit anjing dalam gorong-gorong,
telah masuk pula jadwal salat. Aku tinggalkan dia kembali, barangkali setelah
selesai salat dia sudah berhasil menggapai sudut gorong-gorong dan melenggokan
ekornya padaku. Itu kalau dia ingat akulah satu-satunya manusia yang betah
menemani masa sulitnya.
Selama dalam masjid, aku
terpikir mengapa anjing itu sampai masuk ke dalam gorong-gorong dan mengapa
orang-orang tidak ada yang mau menganggkatnya ke luar. Aku telah berjanji akan
mendoakan anjing tersebut setelah selesai salat. Tapi... apakah tidak berdosa
mendoakan seekor anjing?
Selesai salat, aku tepati
janji untuk mendoakan anjing yang dirundung malang itu. Aku hantarkan doa agar
ia lekas keluar dari gorong-gorong, bila tidak mungkin, bisalah Tuhan sekiranya
menggerakan hati seseorang untuk dapat mengangkatnya ke permukaan. Bagaimanapun
juga, aku benar-benar tidak berniat meremehkan Tuhan. Sebab, apapun dapat Ia
lakukan, sekalipun membuat seekor anjing terbang.
Aku kembali keluar masjid,
kulihat anjing itu masih merengek di dalam gorong-gorong. Ia semakin gigil,
tapi sedikit beruntung ada seonggok sampah. Sebuah kantong plastik tersangkut
tepat di bagiannya. Ia masih kesulitan, karena onggokan itu tidak begitu kuat
menahan berat badannya. Tapi beruntunglah, doaku dijabah Tuhan. Ternyata Tuhan
masih mau mendengarkan doa untuk seekor anjing.
“Beruntung njing. Doa kita didengar. Pasti kamu juga berdoa dalam hati
bukan?”
Aku jadi ingat kembali seorang bapak di kampung yang memelihara
empat ekor anjing pemburu. Andai saja kamu kepunyaan dia, pastilah sudah dicari
dan diselamatkan dari kemalangan ini. Meski begitu, sepertinya kita sudah
ditakdirkan bertemu. Tapi tidak usah, terakhir aku bertemu dengannya dalam
keadaan sakit parah. Buya kampung itu menderita infeksi pada bagian kakinya
karena diserang seekor celeng ketika perburuan. Kejadian itu terjadi lantaran
ia ingin menyelamatkan anjingnya dari serangan seekor celeng. Malang benar pria
itu, malah dia yang menerima taring sejengkal itu. Itu adalah celeng luka yang
nyasar ke kampung. kabarnya, celeng tersebut kena jerat peladang, kemudian
ketika dilepas dari jerat, celeng itu melawan. Tentu peladang sontak
mengarahkan parangnya ke celeng, tapi celaka, parang itu tak membuatnya mati
sekali tebas.
Terakhir sekali aku bertemu dengan beliau, kakinya sudah
diamputasi, alias putus, njing. Kamu jangan tertawa, ini cerita sedih dari
kampungku. Buya itu merelakan kakinya pada seekor celeng nyasar hanya demi
seekor anjing. Aku berharap ada orang seperti itu di sini untuk menyelamatkanmu
dari segala marahbahaya.
***
“Sekian cerita kita hari ini, njing. Kamu jangan marah atau dendam kalau
setelah aku pergi kamu harus mati.”
Aku tinggalkan sang anjing dengan berat hati, karena dari selesai jumatan sampai tengah malam, aku menemani masa-masa sulitnya. Ragam manusia telah sama-sama kita saksikan di sini. Tidak ada satupun yang merelakan tangannya untuk membantu kau dan aku. Bila kau tidak menggigit kakiku siang tadi, pasti kau sudah keluar dan mengorek sampah depan masjid. Kita adalah sama-sama makhluk malang, njing. Akupun begitu, tiada sesal yang kupendam dari diri ini, mungkin aku diutus hanya untuk menemani masa-masa sulitmu. Aku harap tidak ada dendam antara kita, karena sudah tiga kali salat aku mendoakanmu. Itupun tak merubah takdirmu dan aku untuk memiliki dua pasang tangan.
Penulis: Arif P. Putra

Post a Comment
Post a Comment