-->

Cerpen: Arif P. Putra - Mendoakan Seekor Anjing (2016)





Orang-orang meninggalkan apa-apa yang sebenarnya tidak sanggup ia tinggalkan. Rumah-rumah menyulam mendung, menanak air dari pengapian yang setengah hidup. Aku tuliskan catatan singkat ini pada siapa saja yang kelak saling meninggalkan, bahwa semua yang kau mulai bersama nantinya juga akan saling melepaskan. Jangan risau, menyoal catatan singkat ini tidak semuanya patut kau masukan ke hati. Barangkali kau sempat mengalaminya atau hanya merasakan setengah-setengah.
            Ini bagian awal dari cerita. Sebenarnya tidak ada niat untuk membuat catatan singkat ini, aku memang tidak pandai menuliskan apa-apa yang sempat aku rasakan. Kau pasti tidak percaya menyoal semua yang kutuliskan ini. Namun, jauh dalam lubuk hati, tulisan ini serius aku tulis. Tentu dalam keadaan sadar dan waras. Suatu ketika aku pernah mendapati seekor anjing tengah berusaha keluar dari sebuah gorong-gorong depan masjid. Setelah jumatan usai, anjing itu terus merengek. Tubuhnya yang kuyup oleh comberan tidak berhasil meraih bagian sudut gorong-gorong. Sebelum khatib menutup ceramahnya tadi, suara anjing itu masih terdengar hilangtimbul. Aku benar tidak percaya, anjing itu bertahan sampai jumatan selesai.
            Kuhampiri anjing yang kepalanya hampir tenggelam itu. Matanya menyimpan linang yang tumpah, suaranya semakin sayup terdengar walau aku telah berada tepat di depannya. Orang-orang mulai meninggalkan belantara masjid, yang singgah hanya berkata kasihan sekali. Tapi siapa yang berkeinginan mengangkat anjing itu? Tentu bukan aku.
            Aku sempat bercakap dengan anjing malang itu, sampai keinginan untuk mengangkatnya dari gorong-gorong belum juga timbul. Bukan berarti aku jahat atau tidak mau membantunya, tapi ya begitulah keadaannya. Aku coba memasukan kaki ke dalam gorong-gorong, tapi nihil. Anjing berusaha mengigitnya. Aku berusaha meminta batuan pada orang-orang yang bergantian pergi keluar masjid, hanya menghasilkan jijik yang bukan main. Tentu saja begitu, karena sebagian dari jamaah masjid adalah karyawan kantor. Bila harus mengangkat seekor anjing dari gorong-gorong pastilah tidak mau. Meski begitu, aku tidak berniat meninggalkan sang anjing sendiri. Melewati masa-masa sulitnya di dalam gorong-gorong.
            Terus kuusahakan menggapainya dengan kaki. Sesekali kutawarkan sepotong roti bekas yang kutemui di tong sampah. Jangan berpikir aku tidak mau membelikan sepotong roti untuk seekor anjing, tapi ia selalu menolak. Daripada kotor oleh percikan air gorong-gorong, lebih baik aku memakannya. Lagian mana pula si anjing tau kesulitanku untuk makanan. Berjam-jam kutemani si anjing melewati masa-masa sulitnya. Berkali-kali pula ia seperti kehabisan nafas dan lenyap di tengah derasnya sampah. Aku tau betapa sulitnya bertahan di bawah sana, dengan waktu yang sangat lama si anjing pasti berenang layaknya kodok. Beruntung ia masih punya kedua kakinya, aku tidak tau anjing mempunyai tangan atau tidak. Jika keempatnya adalah kaki, beruntunglah dia, berarti tidak pernah mendapat makian sebagai panjang tangan.
            Aku jadi ingat sebuah cerita, tentang seorang pelacur yang menyelamatkan anjing dan masuk surga. Aku pikir-pikir itu hanya sebuah cerita atau kiasan semata, orang-orang menceritkan kisah tersebut secara kilse. Sebagian orang juga menjadikan itu bahan untuk melakukan perbuatan serupa; menjadi pelacur, menjadi jahat, menjadi munafik, menjadi penghasut. Namun tiba-tiba menjadi baik seketika dan menjadikan cerita seorang pelacur masuk surga kemana-mana. Siapa pula yang tau pelacur mana yang telah masuk surga itu.
            Kuingat seorang bapak yang biasa pergi berburu setiap hari minggu. Di rumah ia mememlihara empat ekor anjing pemburu. Aku hapal betul kegiatan untuk anjing-anjing pemburunya. Senin, berenang ke sungai. Selasa, dijemur sambil menggantung anjing dengan dua kaki di tanah, dua lagi di atas pagar. Rabu, jalan-jalan sore keliling kampung. Kamis, diberi vitamin stamina. Jumat, vitamin lagi. Sabtu, istirahat dan dibawa jalan-jalan. Minggu, pergi ke gelanggang perburuan celeng. Aku sampai hapal jam-jam bapak merawat anjing-anjingnya. Pernah suatu kali ia menawarkanku untuk memelihara seekor anjing, bila aku mau ikut berburu ia akan mengajaknya nanti. Ia janjikan pula aku tumpangan dan makan siang selama perburuan.
            Aku sebut itu kepada ayah setiba di rumah. Katanya, “jangan mau ikut, buat apa kamu jadi anak joki pemburu.” Ayah begitu marah mendengar keinginanku untuk ikut berburu. Anak joki adalah seorang anak yang kerjanya memegang anjing ketika berburu, bila celeng mulai diburu, barulah si pemilik melepaskan anjing-anjing. Tidak sampai disana, setelah anjing dilepas, anak joki langsung menyusul si anjing ke dalam rimba. Banyak kemungkinan apabila tidak disusul langsung, bisa saja anjing berkelahi dengan anjing lain atau dibantai oleh celeng-celeng yang terluka.
            Aku sebut saja nama bapak itu pada catatan ini. Beliau adalah Genjay, lelaki paruhbaya yang menghabiskan hari minggunya bersama anjing dan celeng sejak umur sepuluh tahun. Siapa yang tak kenal beliau di kampung. Orang-orang memanggilnya dengan sebutan Buya. Selain berburu, beliau juga salah satu perangkat masjid yang menjabat sebagai imam. Bila sedang mengimami jamaah, suaranya bukan main merdunya. Tapi siapa pula yang tau kegiatan beliau di luar masjid.
            Di kampungku, pemburu tidak asing lagi. Anjing-anjing sejak lama hidup dan mati di kampungku. Anak-anak anjing berkeliaran di rumah-rumah, bangkai-bangkainya hanyut dan tersangkut dibatang pemandian. Kampung yang jauh dari kota itu memang butuh anjing, selain untuk menakuti maling, dia juga bisa menghalau hama-hama perusak kebun warga. Itu sebabnya siapa pula yang berani memarahi seseorang untuk memelihara anjing. Rumahku adalah salahsatu isinya yang menolak memelihara anjing, bukan tanpa alasan. Tapi pernah suatu waktu ibu sepulang dari sungai, kemudian seekor anjing mengejar dan menggigitnya, sampai ibu dikira rabies karena digigit anjing gila. Padahal itu adalah anjing pemburu milik seseorang.
***
“aku wudhu dlu, njing. Eh, apa berdosa ngomong sama anjing, ya?”
Sudah empat jam aku menemani masa-masa sulit anjing dalam gorong-gorong, telah masuk pula jadwal salat. Aku tinggalkan dia kembali, barangkali setelah selesai salat dia sudah berhasil menggapai sudut gorong-gorong dan melenggokan ekornya padaku. Itu kalau dia ingat akulah satu-satunya manusia yang betah menemani masa sulitnya.
            Selama dalam masjid, aku terpikir mengapa anjing itu sampai masuk ke dalam gorong-gorong dan mengapa orang-orang tidak ada yang mau menganggkatnya ke luar. Aku telah berjanji akan mendoakan anjing tersebut setelah selesai salat. Tapi... apakah tidak berdosa mendoakan seekor anjing?
            Selesai salat, aku tepati janji untuk mendoakan anjing yang dirundung malang itu. Aku hantarkan doa agar ia lekas keluar dari gorong-gorong, bila tidak mungkin, bisalah Tuhan sekiranya menggerakan hati seseorang untuk dapat mengangkatnya ke permukaan. Bagaimanapun juga, aku benar-benar tidak berniat meremehkan Tuhan. Sebab, apapun dapat Ia lakukan, sekalipun membuat seekor anjing terbang.
            Aku kembali keluar masjid, kulihat anjing itu masih merengek di dalam gorong-gorong. Ia semakin gigil, tapi sedikit beruntung ada seonggok sampah. Sebuah kantong plastik tersangkut tepat di bagiannya. Ia masih kesulitan, karena onggokan itu tidak begitu kuat menahan berat badannya. Tapi beruntunglah, doaku dijabah Tuhan. Ternyata Tuhan masih mau mendengarkan doa untuk seekor anjing.
“Beruntung njing. Doa kita didengar. Pasti kamu juga berdoa dalam hati bukan?”
Aku jadi ingat kembali seorang bapak di kampung yang memelihara empat ekor anjing pemburu. Andai saja kamu kepunyaan dia, pastilah sudah dicari dan diselamatkan dari kemalangan ini. Meski begitu, sepertinya kita sudah ditakdirkan bertemu. Tapi tidak usah, terakhir aku bertemu dengannya dalam keadaan sakit parah. Buya kampung itu menderita infeksi pada bagian kakinya karena diserang seekor celeng ketika perburuan. Kejadian itu terjadi lantaran ia ingin menyelamatkan anjingnya dari serangan seekor celeng. Malang benar pria itu, malah dia yang menerima taring sejengkal itu. Itu adalah celeng luka yang nyasar ke kampung. kabarnya, celeng tersebut kena jerat peladang, kemudian ketika dilepas dari jerat, celeng itu melawan. Tentu peladang sontak mengarahkan parangnya ke celeng, tapi celaka, parang itu tak membuatnya mati sekali tebas.
Terakhir sekali aku bertemu dengan beliau, kakinya sudah diamputasi, alias putus, njing. Kamu jangan tertawa, ini cerita sedih dari kampungku. Buya itu merelakan kakinya pada seekor celeng nyasar hanya demi seekor anjing. Aku berharap ada orang seperti itu di sini untuk menyelamatkanmu dari segala marahbahaya.
***
“Sekian cerita kita hari ini, njing. Kamu jangan marah atau dendam kalau setelah aku pergi kamu harus mati.”
Aku tinggalkan sang anjing dengan berat hati, karena dari selesai jumatan sampai tengah malam, aku menemani masa-masa sulitnya. Ragam manusia telah sama-sama kita saksikan di sini. Tidak ada satupun yang merelakan tangannya untuk membantu kau dan aku. Bila kau tidak menggigit kakiku siang tadi, pasti kau sudah keluar dan mengorek sampah depan masjid. Kita adalah sama-sama makhluk malang, njing. Akupun begitu, tiada sesal yang kupendam dari diri ini, mungkin aku diutus hanya untuk menemani masa-masa sulitmu. Aku harap tidak ada dendam antara kita, karena sudah tiga kali salat aku mendoakanmu. Itupun tak merubah takdirmu dan aku untuk memiliki dua pasang tangan.

    
Padang, 2016
Penulis: Arif P. Putra
Arif P. Putra
Saya seorang pengarang; menulis Puisi, Cerpen, dan Novel. Saya juga menulis tulisan Ilmiah sebagai alternatif lain mengasah kemampuan menulis saya. Ini merupakan ruang untuk membagikan tulisan-tulisan yang saya hasilkan, baik sudah dimuat media lain ataupun spontan.

Baca Lainnya

Post a Comment

Ikuti Sang Penyair Arif P. Putra